Kendari, portal.id – Penjabat Wali Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Asmawa Tosepu menyarankan calon pengantin (catin) untuk rutin mengonsumsi protein sebagai langkah awal mencegah stunting pada calon buah hati.
“Untuk mencegah stunting, maka kita harus konsisten nengedukasi masyarakat terkait cara pencegahan stunting khususnya bagi mereka yang akan menikah. Calon pengantin (Catin) merupakan klaster pertama dalam upaya penurunan stunting yang disarankan untuk melakukan penambahan protein. Selanjutnya, klaster kedua adalah ibu hamil dan yang terakhir adalah anak bayi di bawah 2 tahun,” kata Asmawa, Selasa (23/5/23).
Asmawa mengaku, potensi sumber protein di Kota Kendari sangat tersedia seperti Ikan, telur, ayam bahkan sampai daging, tentu saja melimpahnya sumber makanan itu menjadi penunjang untuk memenuhi gizi masyarakat Kota Kendari dalam menangani kasus stunting.

“Makanya melalui dinas terkait, kita terus sosialisasi untuk betul betul bisa memanfaatkan potensi yang kita miliki dalam rangka penurunan stunting dan Alhamdulillah penurunan 4,5 itu merupakan salah satu prestasi bagi Pemkot Kendari,” kata Asmawa.
Pemkot kendari juga mewajibkan kepada calon pengantin untuk memiliki sertifikat “Elektronik Siap Nikah dan Hamil” (ELSIMIL) sebagai salah satu upaya untuk mencegah stunting.
“ELSIMIL ini merupakan aplikasi skrining, pendampingan, dan pencegahan stunting bagi calon pengantin yang diterapkan secara nasional,” katanya.

Untuk itu, Asmawa mengngatkan kepada calon p-emngantin untuk ikut berpartisipasi dan berperan dalam upaya menurunan stunting di daerah itu dengan mematuhi atau mengimplementasikan ELSIMIL yang merupakan arahan pemerintah.
Asmawa Tosepu menyebutkan, berdasarkan Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) angka stunting di Kota Kendari berada di angka 19,5 persen.
Angka tersebut menurun dari tahun 2021 sebesar 24 persen, berdasarkan data SSGI itu, angka stunting Kota Kendari terendah dibandingkan dengan angka kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara.

“Ini adalah salah satu terobosan pemerintah kota dalam rangka menurunkan angka stunting dengan melakukan kerja-kerja bersama, gotong-royong bersama semua pihak tidak hanya unsur OPD tetapi juga melibatkan elemen lain, misalnya Baznas, Kementerian Agama, pimpinan dan anggota DPRD dan semua lembaga lainnya termasuk unsur Forkopimda, termasuk gerakan orang tua asuh bebas stunting,” paparnya.
Kepala Dinas Dalduk dan KB kendari, Jahuddin, mengaku kalau Kota Kendari merupakan daerah pertama di Sultra yang mengimplementasikan ELSEMIL pencegahan stunting.
“Stunting terjadi akibat kurangnya gizi yang diterima pada seluruh organ tubuh bayi. Jantungnya, paru-parunya, ginjalnya, telinganya, matanya, kenapa demikian,” katanya.
Dijelaskan, penerapan aplikasi elsimil bagi catin merupakan salah satu cara untuk memantau sekaligus mendampingi para calon pengantin agar kelak benar-benar siap nikah dan siap untuk hamil yang diharapkan bisa melahirkan generasi yang berkualitas.

“Aplikasi elsimil adalah siap nikah dan siap hamil yang didampingi oleh tim bidan, juga pendampingan calon pengantin (catin) melalui berkah nikah, yaitu bimbingan pernikahan yang dilakukan oleh penghulu konselor, serta penyuluh agama fungsional dan penyuluh agama honorer,” katanya.
Penggunaan Elsimil dirasa sangat penting sebagai salah satu upaya mencegah terjadinya kasus stunting baru. Calon pengantin diharapkan telah mendaftarkan diri 90 (sembilan puluh) hari sebelum melaksanakan pekawinan serta mengunduh dan menggunakan aplikasi Elsimil.
Melalui Elsimil, catin bisa mengisi kuisioner berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan sebelumnya di fasilitas kesehatan terdekat. Elsimil akan secara otomatis menunjukkan hasil pemeriksaan kesehatan dengan mengkategorikan sebagai catin ideal untuk hamil atau berisiko.(ADV)






