Kendari, portal.id – Terobosan dan inovasi disektor pertanian oleh Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk mengmebangkan padi organik sudah mulai menunjukan hasil yang menggembirakan dari segi produktivitas.
Sebagaimana diketahui, Pemkot Kendari sedang gencarnya mengembangkan pertanian organik, khusus tanaman padi yang sedang dikembangkan adalah padi organik Owoha di atas lahan 450 hektare yang terletak di Kecamatran Baruga, Kelurahan Baruga dan Kecamatan Mandonga Kelurahan Labibia.
“Produktivitas padi di Kendari meningkat sejak mengembangkan padi organik Owoha di kawasan persawahan Amohalo tersebut hingga mencapai dua kali lipat. Awalnya, produktivitas padi organik Owoha ini bisa mencapai 4-5 ton gabah kering giling per hektare, sekarang sudah mencapai 9,6 ton per hectare,” demikian kata kepala Dinas Pertanian kendari, Sahuriyanto Meronda, di Kendari, Minggu (12/5/24).

Menurut dia, dengan mengembangkan padi Organik Owoha diharapkan nantinya menjadi komoditas unggulan pertanian Kota Kendari, karena lahan pertanian organik yang berada di Kecamatan Baruga dan Kecamatan Mandonga dan merupakan proyek percontohan untuk di Kota Kendari.
“Pengembangan beras organik sangat penting agar hasil produksi petani memiliki ciri khas tersendiri dan menambah nilai jual hasil panen petani di Kawasan Amohalo Baruga. Selain dapat meningkatkan kesejahteraan petani, produksi beras owoha dapat mewujudkan ketahanan pangan,” katanya.
Ia mengatakan, areal tanam padi organik tersebut masih terbatas untuk lokasi Amohalo Kelurahan Baruga, dan masih bisa dikembangkan lagi luasannya, baik itu di kawasan persawahan Amohalo maupun di kawasan Persawahan Labibia Kecamatan Mandonga.

Dijelaskan, selain untuk mengembalikan kesuburan tanah dan ekosistem pertanian dengan hasil yang menyehatkan, dari sisi ekonomi para petani sebenarnya bisa memanfaatkan sisa-sisa tanaman maupun kotoran hewan untuk menjadi pupuk.
“Jadi dia bisa menghemat dari faktor produksi yang namanya modal usaha tani,” kata Mantan Camat Kendari barat ini.
Menurut dia, produksi maupun hasil dari pertanian organik dari sisi kuantitas dan kualitasnya lebih baik dari pada pertanian non organik, atau yang masih menggunakan pupuk kimia.
“Contohnya beras organik. Keuntungannya bisa dua kali lipat dari beras yang menggunakan pupuk kimia. Hanya saja umumnya di Indonesia dan lebih khusus di Kendari hal ini belum terbiasa. Kalau di luar negeri mereka sudah melakukannya sejak 10 atau 20 tahun lalu,” imbuhnya.

Belum terbiasa itu kata dia, lantaran masyarakat masih menganggap harga beras dari pertanian organik maupun non organik ini masih sama harga. Untuk itu perlu dilakukan kampanye secara terus menerus soal pertanian secara organik.
Mantan Kabag Umum Sekretariat Daerah Pemkot Kendari ini mengingatkan jika tanah itu tidak terus menerus subur. Tetapi akan berus berkurang kesuburannya.
“Kita semua tentu tidak ingin pertanian hanya sampai di generasi kita saat ini. Tetapi akan berkelanjutan sampai dengan anak cucu kita nanti. Nah salah satu cara mewariskan ini ke mereka kelak nanti ya pertanian organik, terutama untuk lahan-lahan produktif seperti lahan kering untuk petani jagung atau palawija. Juga pertanian lahan sawah untuk usaha tani padi,” ujarnya.
Untuk itu, ia meminta semua pemangku kepentingan,baik dari jajaran penyuluh pertanian, mitra pupuk organik hingga petani, bekerjasama melakukan terobosan dengan tanaman padi organik, karena daerah lain sudah banyak yang sukses dengan program itu.
“Yang harus kita lakukan adalah menghasilkan produksi beras yang berkualitas, agar dapat bersaing dengan kabupaten lain yang luas lahan sawah lebih luas,” kata katanya. (adv)






