#Advetorial#HeadlineFokus RedaksiKesehatan & Gaya HidupMetro KendariPolitik & Pemerintahan

Disdalduk-KB Kendari Terus Optimalkan Program Bina Keluarga Balita di Posyandu untuk Turunkan Stunting

×

Disdalduk-KB Kendari Terus Optimalkan Program Bina Keluarga Balita di Posyandu untuk Turunkan Stunting

Sebarkan artikel ini

Kendari, portal.id – Pemerintah Kota Kendari melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk-KB) Kota Kendari terus mengoptimalkan program Bina Keluarga Balita (BKB) di Posyandu untuk mempercepat menurunkan stunting.

Kepala Dinas Dalduk KB Kota Kendari Jahudding mengatakan Bina Keluarga Balita merupakan salah satu program Disdalduk KB dalam upaya menurunkan stunting atau kekurangan gizi kronis yang terjadi selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak. Penanganan stunting sudah mulai dilakukan sejak 270 hari usia kehamilan hingga 730 hari di masa pertumbuhan.

“Tugas kita di sini mengajak calon ibu untuk menjaga kehamilan melalui posyandu. Paling tidak dilakukan pemeriksaan 4 kali selama masa kehamilan,” ucapnya Jahudding saat ditemui belum lama ini.

Kemudian setelah melahirkan, sejak usia 0 sampai 2 tahun menjadi bagian dari penanganan stunting.

“Karena 0 sampai 2 tahun merupakan waktu yang sangat krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan anak,” ujarnya.

Selama masa pertumbuhan dan perkembangan, kata Jahudding, bayi sangat membutuhkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan dan tambahan makanan pendamping yang berkualitas.

“Makanya perlu disiapkan calon ibu yang lebih sehat dan bagus agar tidak terjadi stunting,” ucapnya.

Untuk penanganan stunting, lanjut Jahudding pihaknya juga aktif memberikan advokasi dan pemahaman kepada remaja Generasi Berencana (Genre) putri agar tidak menikah di usia muda.

“Kepada remaja putri, kita sarankan agar menikah di usia yang dibenarkan seperti usia 21 tahun, tidak menikah di usia muda. Kalau tetap menikah di usia muda, kita sarankan untuk menunda kehamilan dulu supaya tidak terjadi kasus stunting,” paparnya.

Lebih jauh disampaikan Jahudding, penanganan stunting sebenarnya bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Dalduk KB saja. Akan tetapi juga ada tugas masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Kesehatan dan dinas terkait lainnya.

“Kita (Dinas Dalduk), karena stunting ini menjadi tugas BKKBN, otomatis sekaligus menjadi tugas kita. Makanya dalam hal ini, kita fokus pada Bina Keluarga Balita yang juga menjadi proyek prioritas nasional,” katanya.

Dia mengatakan, berdasarkan data terkini dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan, angka stunting di Kota Kendari masih berada di angka 25,7 persen. Sementara itu, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat angka yang lebih rendah, yakni 20 persen. Meski terjadi penurunan, capaian itu belum mencapai target nasional 2025, yakni 18,8 persen.

“Untuk mencapai target itu, kita menyiapkan strategi terpadu yang menyentuh berbagai lini kehidupan masyarakat. Mulai dari pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita, peningkatan kualitas layanan posyandu dan puskesmas, hingga penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak. Namun, intervensi saja tidak cukup, karena yang terpenting lagi adalah kolaborasi lintas sektor dan evaluasi menyeluruh terhadap program setiap OPD adalah kunci,”jelasnya.

Dia juga mengatakan bahwa Pemkot Kendari terus menguatkan komitmennya dalam upaya menekan dan memutus rantai stunting lewat program  Gerakan Orang Tua Asuh Atasi Stunting (Genting).

Tujuan Genting untuk membantu keluarga berisiko stunting melalui gotong royong masyarakat, memberikan dukungan kepada keluarga kurang mampu dan mewujudkan generasi yang sehat dan tidak stunting. Sasaran genting adalah ibu hamil, ibu menyusui, baduta dan balita.

“Pemkot Kendari berkomitmen dalam menyukseskan Genting, mari kita dukung dan berkontribusi pada gerakan ini guna mewujudkan anak-anak yang sehat, cerdas, dan menjadi harapan bangsa,”tegasnya.

Saat ini terdapat 1.018 keluarga yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi stunting. Identifikasi dilakukan berdasarkan enam indikator utama, termasuk akses terhadap air bersih, sanitasi layak, dan kondisi kehamilan berisiko seperti “4 terlalu” (terlalu muda/tua, terlalu sering, dan terlalu banyak anak).

“Setiap keluarga ini tidak hanya didampingi, tapi dijangkau secara holistik oleh berbagai sektor, kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi. Perjuangan ini belum selesai. Target kita adalah menekan angka stunting hingga 14 persen secara nasional. Tanpa sinergi semua pihak, angka hanyalah angka. Tetapi jika kita bergerak bersama, itu akan jadi perubahan nyata,”pungkasnya.

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id