Kendari, portal.id – Di bawah kepemimpinan Lurah Yusuf, Pemerintah Kelurahan Benu-Benua Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra) optimis dapat menurunkan angka stunting di wilayahnya. Optimisme ini di dasari oleh berbagai langkah strategis yang telah dan akan terus di lakukan. Termasuk intervensi door-to-door dan pelibatan kader PKK, Kader Posyandu dan RT/RW.
Yusuf mengatakan, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kendari tercatat ada 12 kasus stunting di Kelurahan Benu-Benua tahun 2025.
“12 kasus ini bukan lagi resiko stunting tapi betul-betul sudah stunting,”ujar Yusuf saat ditemui dikantornya belum lama ini.
Dia meyakini dengan kerja sama semua pihak, angka stunting di Kelurahan Benu-Benua dapat diturunkan secara signifikan.
Intervensi door-to-door akan terus di lakukan hingga akhir Desember 2025. Melalui program ini, kader PKK, Kader Posyandu dan RT/RW mendatangi secara langsung rumah-rumah warga untuk memberikan edukasi tentang stunting. Serta memantau kesehatan ibu hamil dan balita.
Selain itu, Lurah Yusuf juga menekankan pentingnya pelibatan Kader PKK dan Kader Posyandu di kelurahan,. Diharapkan dapat membantu dalam sosialisasi pencegahan stunting, serta dalam pendampingan ibu hamil dan balita.
“Kader PKK, Kader Posyandu dan RT/RW memiliki peran strategis dalam pencegahan stunting. Oleh karena itu, kami harap Kader PKK, Kader Posyandu dan RT/RW dapat bersinergi dengan semua pihak dalam upaya menurunkan angka stunting,” jelasnya.

Upaya Pemerintah dalam menurunkan angka stunting ini sejalan dengan program nasional yang di canangkan oleh pemerintah pusat. Penurunan angka stunting menjadi salah satu prioritas utama pemerintah, karena stunting dapat berakibat fatal bagi perkembangan anak, baik secara fisik maupun mental.
Dengan berbagai upaya yang di lakukan, Lurah Yusuf berharap angka stunting di Kelurahan Benu-Benua dapat turun secara signifikan dalam waktu dekat.
Terpisah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk dan KB) Kota Kendari Jahudding mengatakan, angka stunting Kota Kendari berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 berada diangka 20%.
“Hasil SSGI Kota Kendari masih berada diangka 20 persen. Artinya masih perlu kerja keras untuk mencapai target nasional 14%,” terang Jahudding.
Karena hal tersebut, lanjutnya, Pemkot Kendari bekerja keras mewujudkan generasi yang memiliki Sumber Daya Manusia berkualitas di masa mendatang.
“Itu sebabnya kami terus meningkatkan sinergitas lintas sektor dalam upaya percepatan pencegahan penurunan angka stunting Kota Kendari,” lanjutnya.
Jahudding menyampaikan, salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah rapat bersama seluruh stakeholder dan OPD terkait untuk menyamakan persepsi dalam penanganan keluarga berisiko stunting.

“Berdasarkan pendataan rutin tahunan, di Kota Kendari terdapat 1.018 keluarga yang masuk kategori berisiko stunting. Inilah yang menjadi fokus utama kita dalam melakukan intervensi, baik secara spesifik maupun sensitif,” ujarnya
Ada enam indikator yang membuat keluarga masuk kategori berisiko stunting, yaitu sanitasi tidak layak, keterbatasan akses air bersih, serta faktor “4 Terlalu” terlalu muda sudah hamil, terlalu tua masih hamil, terlalu banyak anak, dan jarak kelahiran terlalu rapat. Faktor-faktor ini, jika tidak diintervensi dengan edukasi dan pendampingan yang tepat, akan memicu lahirnya generasi baru dengan risiko stunting.
Sebagai terobosan, Pemkot Kendari meluncurkan program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Intervensi Stunting). Melalui program ini, masyarakat yang mampu diharapkan mau menjadi pendamping bagi keluarga berisiko stunting maupun yang sudah mengalami stunting.
“Kalau dulu kita kenal istilah Persaudaraan Madani, sekarang kita sebut Orang Tua asuh. Konsepnya, masyarakat yang mampu menjadi orang tua asuh bagi keluarga yang memerlukan pendampingan,” jelas Jahudding.
Pemkot Berharap seluruh elemen masyarakat turut mendukung pergram pemerintah dalam menekan angka stunting, demi menciptakan generasi yang sehat, cerdas dan berkualitas.






