#HeadlineFokus Redaksi

Penyuluh KB Sebagai Ujung Tombak Sukseskan Program MBG

×

Penyuluh KB Sebagai Ujung Tombak Sukseskan Program MBG

Sebarkan artikel ini

Oleh Yonatan Parintak, S.Sos

Pemerintah Negara Republik Indonesia telah menyiapkan beberbagai cara atau langkah nyata untuk menyiapkan generasi emas 2045. Salah satunya adalah program makan bergizi gratis (MBG). MBG tidak hanya menyasar anak sekolah, tapi juga ibu hamil, ibu menyusui, juga anak balita dan paud. Itu yang tidak dihandle Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Berbagai pihak diharapkan ikut terlibat untuk menyukseskan program MBG tersebut, termasuk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga melalui pelibatan para tenaga penyuluh KB.

Penyuluh KB adalah Pejabat Fungsional Penyuluh Keluarga Berencana, yaitu Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas memberikan informasi dan konseling tentang kependudukan, pembangunan keluarga, dan keluarga berencana. Tugas mereka mencakup penyuluhan, pelayanan, penggerakan, dan pengembangan program KB di tingkat masyarakat.

Penyuluh memiliki tugas memberikan informasi dan konseling kepada masyarakat mengenai program Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan reproduksi. Melaksanakan pengelolaan perkembangan kependudukan, pembangunan keluarga, dan keluarga berencana. Mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam program KB. Mengembangkan program-program yang berkaitan dengan keluarga berencana.

Peran dalam program lain terlibat dalam program GENTING untuk menurunkan stunting melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pusat hingga kelurahan termasuk menjadi bagian dalam menyukseskan program pemerintah yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program makan siang gratis Indonesia pada pemerintahan Prabowo Subianto yang berjalan secara bertahap sejak 6 Januari 2025. MBG menargetkan siswa-siswi PAUD hingga SMA/SMK serta ibu hamil dan menyusui.

Peran penyuluh KB dalam program MBG (Makanan Bergizi Gratis) adalah sebagai ujung tombak pelaksana program di lapangan, yang bertugas mendata sasaran, mendistribusikan makanan, dan menggerakkan masyarakat. Mereka juga berperan dalam koordinasi lintas sektor, advokasi, serta pemantauan dan evaluasi program di tingkat daerah untuk memastikan kelancaran dan ketepatan sasaran.

Peran utama penyuluh KB dalam program MBG adalah melakukan identifikasi dan pendataan sasaran. Penyuluh KB membantu mengidentifikasi dan menyediakan data sasaran, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, lengkap dengan nama dan alamat. Selain itu, bisa menjadi pelaksana utama dalam mendistribusikan makanan bergizi gratis kepada sasaran yang telah ditetapkan.

Penyuluh KB diharapkan mampu berkoordinasi secara efektif dengan berbagai instansi dan mitra kerja lainnya di tingkat kecamatan hingga kelurahan untuk memastikan program berjalan lancar. PLKB juga berperan sebagai penggerak di lapangan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat, serta melakukan advokasi kepada pemerintah daerah agar program didukung penuh.

Karena, keberhasilan program MBG bukan hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga dari kualitas gizi yang diterima masyarakat serta pemahaman mereka terhadap pentingnya pola makan sehat. Karena itu, koordinasi yang solid dengan PKB di lapangan menjadi kunci utama.

Penyuluh KB terlibat dalam verifikasi dan validasi data, serta melakukan pemantauan rutin untuk memastikan program tepat sasaran dan berkelanjutan.

Tantangan dan tanggung jawab penyuluh KB dimulai dari keberlanjutan program, bahwa penyuluh KB memiliki tanggung jawab untuk memastikan program tidak hanya berjalan saat peluncuran, tetapi juga berlanjut dalam jangka panjang, dengan semangat dan kesinambungan yang terjaga.

Selain itu, penyuluh KB harus mampu membangun dan memperkuat jejaring kerja dengan berbagai pihak, seperti instansi pemerintah, kader, dan mitra lainnya, untuk mendukung program. Selain tugas teknis, penyuluh KB dituntut untuk memiliki kemampuan memimpin perubahan dan mengelola program dengan baik untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Untuk menyukseskan program MBG ini, pemeirntah membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri dari unsur tenaga kesehatan (seperti bidan atau perawat), kader PKK, termausk dalam hal ini kader KB. Dengan peran aktif dan semangat kolaborasi ini, diharapkan Penyuluh KB dapat membantu pemerintah menyukseskan program MBG sebagai bagian dari strategi besar untuk membangun keluarga yang lebih kuat dan berkualitas.

(Penulis Yonatan Parintak, S.Sos., adalah Penyuluh KB Ahli Madya Kecamatan Sampara Kabupaten Konawe, Sultra) 

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id