Jakarta, portal.id – PT Vale Indonesia Tbk mengumumkan kinerja keuangan triwulan pertama 2026 dengan hasil positif meski volume produksi nikel matte menurun. Perseroan mencatat laba bersih melonjak 85 persen menjadi AS$43,6 juta, didorong kenaikan harga jual, manajemen biaya disiplin, dan efisiensi operasional.
Pada triwulan I 2026, produksi nikel matte tercatat 13.620 metrik ton, turun dibanding 17.052 metrik ton pada triwulan IV 2025 dan 17.027 metrik ton pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini sesuai rencana Perseroan akibat pemeliharaan terjadwal, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan selesai semester I 2026, serta penyesuaian RKAB 2026.
Volume pengiriman nikel matte juga turun 25% secara triwulanan.Meski begitu, PT Vale tetap pada jalur untuk mencapai target produksi tahun penuh sebesar 67.645 ton dan siap memanfaatkan tren kenaikan harga nikel dunia.
Tahun 2026 menjadi periode penting bagi PT Vale dengan beroperasinya tiga blok tambang sekaligus: Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Awal tahun ini, Perseroan mencatat penjualan pertama bijih nikel limonit dari Blok Pomalaa sebanyak 88.983 wmt.
Sementara penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi tercatat 886.094 wmt, turun dari 1.400.245 wmt pada triwulan sebelumnya.
Dari sisi pendapatan, harga rata-rata jual nikel matte naik 15% menjadi AS$14.213 per metrik ton dibanding AS$12.308 per metrik ton pada triwulan IV 2025.
Total pendapatan Perseroan mencapai AS$252,7 juta. Tahun 2026 juga menandai tahun penuh pertama penerapan tingkat pembayaran 82% untuk penjualan nikel matte, yang memperkuat dasar pendapatan.
Biaya tunai per unit penjualan nikel matte pada 1T26 tercatat AS$10.382 per ton, naik tipis dari AS$9.573 per ton triwulan sebelumnya akibat kenaikan harga input.
Untuk bisnis bijih nikel, biaya tunai stabil di AS$21 per ton untuk Blok Bahodopi dan AS$13 per ton untuk Blok Pomalaa, termasuk royalti dan logistik. Ke depan, peningkatan volume dari Pomalaa diharapkan menekan biaya tunai melalui skala ekonomi.
Perbaikan harga dan efisiensi mendorong EBITDA naik 29% secara triwulanan menjadi AS$80,1 juta. Konsumsi HSFO, solar, dan batubara juga turun sejalan rencana pembangunan kembali Furnace 3, dengan stok tersedia memastikan operasi tanpa gangguan. Harga ketiga bahan bakar turut menurun berkat pengadaan disiplin dan efisiensi.
Pada 23 April 2026, PT Vale menandatangani Sustainability-Linked Loan senilai AS$750 juta, fasilitas pinjaman sindikasi ESG pertama di industri tambang Asia Tenggara. Ini menegaskan kepemimpinan Perseroan dalam mengintegrasikan keberlanjutan ke strategi pembiayaan.
Pengeluaran modal 1T26 mencapai AS$139,0 juta untuk operasi dan proyek pertumbuhan. Per 31 Maret 2026, kas dan setara kas tercatat AS$220,1 juta, turun dari AS$376,4 juta akhir 2025 sejalan pelaksanaan program kerja.
“Meskipun kami masih menghadapi berbagai tantangan dan ketidakpastian dalam lingkungan operasional, kami terus menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan tingkat keuntungan yang positif dan menerapkan disiplin keuangan yang ketat,” ujar Bernardus Irmanto, Chief Executive Officer dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk.






