Kendari, portal.id – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Halu Oleo (FISIP UHO) Kendari resmi menjadi tuan rumah Seminar Serantau Isu-Isu Komuniti (SSIK) 2026 Series VII. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 1 hingga 2 September 2026 di Hotel Claro Kendari.
Mengangkat tema “Strengthening Community Resilience Amid Global Uncertainty, Crisis, and Conflict”, seminar ini menghadirkan lebih dari 150 peserta yang terdiri dari akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia.
Turut hadir sebagai tokoh kunci, Rektor Universitas Teuku Umar, Prof. Dr. Nyak Amir dan Rektor Universitas Abulyatama, R. Agung Efrianto Hadi, Ph.D. Dari jajaran akademisi internasional hadir Assoc. Prof. Dr. Haliza Abdul Rahman dari Institute for Social Science Studies (IPSAS), Universiti Putra Malaysia (UPM) sebagai keynote speaker, bersama Dekan FISIP UHO, Prof. Dr. Eka Suaib.
Wakil Rektor Bidang Akademik UHO, Prof. La Ode Santiaji Bande, M.P dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan kapasitas lokal dalam menghadapi fenomena global yang penuh ketidakpastian.
“Kolaborasi lintas negara menjadi kunci dalam merumuskan strategi ketahanan komunitas yang adaptif terhadap krisis multidimensi, mulai dari perubahan iklim hingga konflik sosial,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).
Pada sesi pemaparan, Assoc. Prof. Dr. Haliza Abdul Rahman menyoroti urgensi pergeseran paradigma dari model penanggulangan krisis yang terpusat atau top-down menuju penguatan kapasitas lokal atau bottom-up.
Dalam pemaparannya berjudul Sustainable Communities in Times of Crisis, ia mengungkapkan data bahwa lebih dari 3,3 miliar individu tinggal di daerah yang rentan terhadap bahaya lingkungan dan guncangan ekonomi, dengan kerugian bencana tahunan mencapai lebih dari $380 miliar.
“Komunitas terkuat bukanlah yang tidak pernah menghadapi krisis, melainkan yang mampu mengorganisir diri, beradaptasi, pulih, dan bangkit lebih kuat ketika krisis datang,” kata Haliza.
Ia menjelaskan konsep Community Resilience Scorecard yang mencakup sembilan pilar utama, yaitu iklim, air, pangan, kesehatan, ekonomi, sosial, digital, tata kelola, dan lingkungan. Prof. Haliza juga menyoroti peran strategis pemuda dan perempuan sebagai modal resiliensi tersembunyi.
“Pemuda memiliki keterampilan digital dan inovasi, sementara perempuan memegang kendali atas manajemen risiko rumah tangga dan jaringan perawatan. Sebuah komunitas tidak akan tangguh jika sumber daya manusianya dieksklusi,” jelasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Abulyatama, R. Agung Efrianto Hadi, Ph.D memaparkan hasil riset berjudul Model Resiliensi Komunitas Berbasis Adopsi PLTS yang dilakukan di Bandar Lampung.
Dengan pendekatan PLS-SEM terhadap 103 responden, penelitiannya menemukan bahwa potensi surya yang baik dengan rata-rata GHI 4,90 kWh/m²/hari belum otomatis menjadi resiliensi tanpa didukung oleh literasi energi dan kebijakan yang aplikatif.
“Kesiapan adopsi PLTS menjadi mediator penuh bagi literasi energi dan dukungan kebijakan menuju resiliensi. Namun, kesadaran krisis dan persepsi manfaat justru bekerja secara langsung memperkuat kapasitas kolektif komunitas. Ini artinya, kebijakan harus dirancang sebagai program teknologi dan penguatan masyarakat secara bersamaan,” paparnya.
Ketua Panitia SSIK, Jumrana menambahkan, selain diskusi panel, acara ini juga dimeriahkan dengan lomba poster mahasiswa, peluncuran buku bertema disaster management hasil riset kolaboratif, serta rangkaian pengabdian kepada masyarakat di Nambo, Kota Kendari dan di Kelurahan Cialam Jaya, Kabupaten Konawe Selatan.
Melalui SSIK 2026 Series VII, UHO berharap dapat memperkuat jejaring akademik regional sekaligus menghasilkan rekomendasi konkret untuk penguatan ketahanan komunitas di tengah ketidakpastian global.






