Baubau, portal.id – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, menjaga akar budaya dan memperkuat nilai-nilai keagamaan menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban masyarakat. Kerukunan bukan sekadar ikatan kekeluargaan, melainkan ruang untuk merawat identitas, menumbuhkan solidaritas, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Tabligh Akbar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang diselenggarakan Kerukunan Keluarga Besar Wadiabero-Haiya Kota Baubau, Jumat (9/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sekaligus diisi sambutan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, H. Mansur, S.Pd., M.A.
Hadir dalam kegiatan itu Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Dr. Ir. Hugua, M.Ling., Wali Kota Baubau, Wakil Wali Kota Baubau, Ketua DPRD Kota Baubau, Sekretaris Daerah Kota Baubau, unsur Forkopimda, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Baubau, Ketua Kerukunan Masyarakat Buton Tengah, Ketua Kerukunan Wadiabero-Haiya, tokoh adat, tokoh sara, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat Wadiabero-Haiya.
Dalam sambutannya, H. Mansur menegaskan bahwa kerukunan keluarga merupakan mekanisme sosial yang telah lama menjadi penopang harmoni kehidupan masyarakat, baik dalam hubungan antarmanusia, hubungan manusia dengan alam, maupun hubungan manusia dengan Tuhan.
Menurutnya, pertemuan tersebut bukan sekadar momentum memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah, identitas, dan masa depan masyarakat Wadiabero-Haiya.
“Peradaban besar tidak lahir dari masyarakat yang melupakan asal-usulnya. Ia lahir dari masyarakat yang mampu menjaga akar sambil menumbuhkan cabang-cabang kemajuan,” tegasnya.
Dikatakannya, Adat dan agama merupakan satu napas dalam kehidupan. Mengangkat filosofi luhur masyarakat Buton, “Adat bersendi sara, sara bersendi Kitabullah,” Kakanwil menjelaskan bahwa adat dan agama bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan dalam membentuk tata kehidupan masyarakat yang berakhlak, harmonis, dan berkeadaban.
Dalam perspektif Kementerian Agama, adat merupakan salah satu ruang ekspresi nilai-nilai agama dalam kebudayaan. Nilai spiritual tidak berhenti pada ritual peribadatan, tetapi harus hadir dalam perilaku sehari-hari.
Karena itu, menurut H Mansur, kegiatan yang diselenggarakan Kerukunan Keluarga Besar Wadiabero-Haiya, termasuk lomba-lomba religi dan tabligh akbar yang melibatkan berbagai elemen masyarakat di jazirah Kepulauan Buton, memiliki makna lebih luas daripada sekadar perayaan keagamaan.
Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk merawat ukhuwah, memperkuat solidaritas, menjaga keseimbangan sosial, serta menghidupkan nilai-nilai tauhid melalui wadah kerukunan.
“Inilah moderasi beragama yang sesungguhnya, bukan sekadar konsep, tetapi praktik hidup yang diwariskan secara turun-temurun,” pungkasnya.






