Kendari, portal.id – Jika industri pertambangan sering kali dilihat hanya dari angka produksi dan nilai investasi, PT Vale Indonesia Tbk mencoba membalik logika itu.
Di tangan perusahaan yang kini bagian dari BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID tersebut, tambang nikel menjadi pintu masuk untuk menciptakan efek berganda atau multiplier effect ekonomi yang bekerja dari lingkaran paling kecil: koperasi, UMKM, hingga vendor lokal.
Komitmen ini tidak berhenti di atas kertas. Ia diwujudkan dalam dua momentum yang berjalan paralel di dua provinsi: penguatan koperasi dan UMKM di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dan pembukaan akses rantai pasok proyek raksasa Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Dua Penghargaan di Harkopnas dan 127 UMKM yang Naik Kelas
Panggung pembuktian pertama terjadi pada Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 tingkat Provinsi Sulsel yang dirangkaikan dengan Pekan Expo Koperasi dan UMKM di Lapangan Iniaku, Sorowako, 6–10 Oktober 2026.
Expo yang dihadiri langsung Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono, serta perwakilan koperasi dan UMKM dari 23 kabupaten/kota se-Sulsel itu bukan sekadar seremonial. Bagi Vale, itu adalah ruang akuntabilitas.
Di forum itulah, PT Vale Indonesia Tbk meraih dua penghargaan sekaligus sebagai mitra strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Penghargaan diberikan atas kontribusi berkelanjutan Vale dalam menyukseskan expo dan pembinaan ekonomi kerakyatan.
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, secara terbuka menyampaikan apresiasi. Tanpa dukungan berkelanjutan Vale, perhelatan tingkat provinsi itu sulit terlaksana dengan skala sebesar itu.Lantas, apa bentuk kontribusi yang diapresiasi tersebut? Angkanya cukup jelas.
Hingga 30 September 2026, Vale Indonesia tercatat telah mendukung 127 UMKM yang tersebar di empat kecamatan lingkar tambang utama di Luwu Timur: Nuha, Towuti, Wasuponda, dan Malili. Bukan sekadar pendataan, 74 UMKM di antaranya telah berhasil didorong naik kelas dengan memperoleh akses pasar riil melalui Pusat Oleh-Oleh Telaloa di Sorowako.
Pusat oleh-oleh ini menjadi kurator ekonomi. Produk UMKM yang sebelumnya hanya dijual dari rumah ke rumah, kini memiliki etalase permanen untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk ribuan karyawan dan pendatang dari luar daerah.Presiden Direktur dan CEO Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menegaskan filosofi di balik angka tersebut.
“Bagi kami keberhasilan industri dapat diukur melalui produksi dan investasi, serta manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Melalui kegiatan operasi, pengembangan proyek hilirisasi, dan pemberdayaan UMKM, kami bermaksud membuka lebih banyak peluang ekonomi agar masyarakat dapat tumbuh bersama perkembangan industri,” kata Bernardus.
Pernyataan Bernardus merujuk pada satu konsep kunci: industri nikel dan investasi hilirisasi seharusnya tidak menjadi enclave ekonomi, melainkan menciptakan efek berganda bagi kebutuhan barang, jasa, dan usaha pendukung di daerah.
Kopkar Vale: Dari Warung Karyawan 1979 Menjadi Koperasi Modern 1.300 Anggota
Multiplier effect itu juga tumbuh dari dalam perusahaan sendiri. Jauh sebelum istilah ESG populer, semangat berkoperasi telah hidup di Sorowako melalui Koperasi Karyawan (Kopkar) Vale.Berdiri sejak 1979, Kopkar berawal dari kebutuhan paling dasar: memenuhi kebutuhan pokok karyawan PT INCO, pendahulu Vale Indonesia, yang saat itu hidup di kawasan terpencil Sorowako.
Kini, 46 tahun kemudian, Kopkar telah bertransformasi menjadi badan usaha modern. Anggotanya lebih dari 1.300 orang, dengan lini usaha yang merentang dari ritel hingga simpan pinjam.Ketua Kopkar Vale, Muhammad Parawansa Lamude, mengatakan kunci bertahan adalah adaptasi.
“Koperasi tumbuh dari kebutuhan bersama. Kami terus berinovasi dan membangun kemitraan agar koperasi dapat memberikan manfaat kesejahteraan yang berkelanjutan bagi para anggota,” ujar Muhammad.
Kisah Kopkar ini menjadi cerminan tema Harkopnas ke-79 tahun ini: “Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya”. Kolaborasi antara pemerintah, koperasi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi prasyarat ekosistem ekonomi yang tangguh dan inklusif.
Membuka Pintu IGP Pomalaa untuk Pengusaha Kolaka
Jika di Sorowako multiplier effect diwujudkan lewat UMKM, di Kolaka ia diwujudkan lewat rantai pasok proyek.PT Vale Indonesia saat ini tengah mengembangkan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Sulawesi Tenggara, sebuah proyek pertumbuhan nikel yang bernilai besar.
Pertanyaannya, apakah pengusaha lokal hanya akan menjadi penonton?Jawaban itu coba dijawab Vale melalui sosialisasi prakualifikasi vendor yang digelar di Kolaka pada Kamis (29/10).Kegiatan ini tidak main-main.
Pesertanya berasal dari lima wilayah pemberdayaan IGP Pomalaa: Tanggetada, Pomalaa, Baula, Wundulako, dan Kolaka, yang tergabung dalam sembilan asosiasi pengusaha lokal.
Head of Pomalaa Project Vale Indonesia, Mohammad Rifai, menjelaskan sosialisasi ini adalah upaya untuk memastikan kesetaraan informasi.
“Kami ingin memastikan pelaku usaha lokal memiliki akses terhadap informasi yang sama dan kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam rantai pasok IGP Pomalaa. Melalui proses yang transparan dan terukur, kami berharap semakin banyak perusahaan lokal yang mampu memenuhi standar yang dipersyaratkan,” kata Rifai.
Menurut Rifai, keterlibatan vendor lokal tidak hanya untuk kelancaran proyek, tetapi untuk membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan dan berdaya saing di Kabupaten Kolaka.
Dalam forum tersebut, Vale memaparkan secara transparan mekanisme prakualifikasi: mulai dari persyaratan administrasi, legalitas, kapabilitas teknis, hingga aspek keselamatan kerja (K3) yang menjadi standar mutlak di industri pertambangan global.
Langkah transparan ini disambut positif oleh pelaku usaha.Ketua Asosiasi Pengusaha Bumi Mekongga (APBM), Madi, menyebut sosialisasi ini memberikan kejelasan dan kepastian.
“Momentum ini memberikan kesempatan kepada kontraktor lokal untuk mempersiapkan diri dan berkompetisi secara sehat melalui proses yang adil dan terbuka,” ujar Madi.Harapan serupa disampaikan anggota Asosiasi Kontraktor Jasa Pertambangan Pomalaa (ASKOJAPP), Alfian.
Ia berharap sosialisasi tidak berhenti di seremoni, melainkan berlanjut dengan pendampingan teknis.”Kami berharap Vale Indonesia dapat terus memberikan pendampingan kepada pengusaha dan asosiasi lokal sehingga semakin banyak perusahaan daerah yang siap mengikuti proses pengadaan secara profesional dan kompetitif,” kata Alfian.
Dari Sorowako ke Pomalaa, polanya sama: mengubah ketergantungan menjadi kemandirian. Di satu sisi, 127 UMKM didorong naik kelas. Di sisi lain, ratusan kontraktor lokal disiapkan untuk masuk ke rantai pasok proyek bernilai triliunan.Itulah multiplier effect yang dimaksud Vale: ketika nikel yang digali dari bumi, pada akhirnya kembali menghidupi ekonomi di sekitarnya.






