Politik & PemerintahanSulawesi Tenggara

Alis Muna Sebut Hasil Quick Count THI Diragukan Keakuratannya

×

Alis Muna Sebut Hasil Quick Count THI Diragukan Keakuratannya

Sebarkan artikel ini
Alis Muna Mbotu, selaku Liaison Officer (LO) dari Calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Sultra Muhammad Aris Achmad
Alis Muna Mbotu, selaku Liaison Officer (LO) dari Calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Sultra Muhammad Aris Achmad. Foto : IST

KENDARI, Portal.id – Sejumlah kalangan menyatakan penolakan atas hasil quick count yang dirilis The Haluoleo Institute (THI) pada Kamis 15 Februari 2024, atau sehari setelah hari pencoblosan Pemilu 2024.

Penolakan tersebut salah satunya diungkapkan Alis Muna Mbotu, selaku Liaison Officer (LO) dari Calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Sultra Muhammad Aris Achmad.

Alis Muna saat dikonfirmasi menjelaskan, dirinya meragukan keakuratan data quick count yang dirilis THI tersebut. Pasalnya, terdapat sejumlah kejanggalan dalam metodologi dalam proses quick count tersebut.

Kejanggalan tersebut terjadi karena data presentase hasil quick count disimpulkan berdasarkan data acuan yang belum mencapai 100 %, atau belum sempurna secara metodologi.

Olehnya itu, dirinya menilai kejanggalan tersebut dapat dianggap sebagai cacat secara metodologi. Sehingga mengurangi keakuratan nilai hasil quick count yang dirilis THI tersebut.

“Bagaimana hasilnya sudah ada sementara data nya masih proses tabulasi, belum 100 %, bagaimana ambil kesimpulannya itu?, bagaimana bisa ada data si A yang tinggi si B rendah?,” terang Alis Muna, Jumat 16 Februari 2023.

Selain meragukan data hasil quick count THI karena fakta tersebut, Alis Muna juga menyebut, hasil perhitungan suara yang dilakukan timnya secara internal dengan basis data C1, sangat berbeda dengan hasil quick count THI.

Selain itu, kata LO resmi Calon DPD RI Dapil Sultra M. ARIS Achmad ini, hasil quick count THI juga berbeda sangat jauh dengan hasil perhitungan sementara real count KPU yang dirilis melalui laman infopemilu.kpu.go.id.

“Kan kami sudah pegang data C1, lalu kami bandingkan itu dengan data si rekap, itu berbeda sekali. Makanya kami minta seluruh saksi segera meminta Salinan C1,” ungkap LO Calon DPD nomor urut 13 ini.

Alis Muna juga menyayangkan sikap THI yang tetap merilis hasil quick count meskipun secara metodologi masih terdapat kekurangan data. Ia menilai, THI hanya mengutamakan kecepatan bukan keakurasian.

Apalagi, lanjutnya, hasil quick count malah menimbulkan kegaduhan diantara peserta Pemilu, karena banyaknya aksi saling klaim kemenangan dan munculnya tudingan spekulasi perhitungan suara.

“Bagaimana tidak menimbulkan kegaduhan, secara metodologi saja boleh dibilang belum sempurna, jadi banyak kejanggalannya. Kami rasa ini bisa jadi pesanan pihak tertentu,” tegas Alis Muna.

Ailis Muna juga menjelaskan, salah satu kegaduhan yang ditimbulkan diantaranya berkaitan dengan pembentukan opini public terkait Caleg yang raihan suaranya dibawah 1 %.

Sebab, margin eror yang digunakan THI dalam tabulasi hasil quick count memiliki margin of error 1 %. Sehingga, Caleg dengan dengan angka raihan suara dibawah 1 % seakan sudah sangat pasti tidak akan lolos.

Mantan aktifis kampus UHO era 2000-an ini menilai, pembentukan opini publik melalui hasil quick count THI menyesatkan publik, karena seolah-olah menegaskan adanya pemenang Pemilu, dan mengabaikan proses tabulasi real count KPU yan masih berjalan.

“Persaingan perebutan suara masih sangat tipis, antara satu Caleg dengan lainnya, sehingga semua masih punya peluang untuk lolos, karena perbedaan antara satu dan lainnya bisa jadi kurang dari 1 persen,” pungkasnya.

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id