KENDARI – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Kendari, Sahuriyanto Meronda, SP., MM, membekali peserta didik baru Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kendari dengan pemahaman tentang literasi digital melalui materi bertajuk “Cerdas Bermedia dan Bijak Menggunakan Handphone” dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (10/8/2026).
Kegiatan MPLS yang berlangsung sejak 29 Juli hingga 10 Agustus 2026 di Kelurahan Abeli Dalam, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari tersebut menjadi langkah awal pembentukan karakter, kedisiplinan, serta kesiapan belajar para siswa sebelum memulai tahun ajaran 2026/2027.
Di hadapan peserta didik, Sahuriyanto menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri, bukan sekadar untuk hiburan.
“Media sosial ini bukan hanya tempat scroll. Kita bisa mendapatkan informasi, belajar, berkarya, berprestasi, berbagi kreativitas, bahkan mendukung usaha dan membangun reputasi diri melalui konten-konten positif,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap aktivitas di media sosial akan meninggalkan jejak digital yang dapat berdampak pada masa depan seseorang. Karena itu, siswa diminta membiasakan diri berpikir sebelum mengunggah, berkomentar, maupun membagikan informasi.
Sahuriyanto memperkenalkan prinsip sederhana dalam bermedia digital, yakni membaca terlebih dahulu, tidak bereaksi saat emosi, memeriksa kebenaran informasi, mempertimbangkan dampaknya, kemudian baru memutuskan untuk mengunggah atau membagikannya.
“Kita harus cepat membaca, tetapi lambat membagikan. Sebelum share, periksa dulu apakah informasinya benar, aman, bermanfaat dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain,” katanya.
Selain mengingatkan bahaya penyebaran hoaks, ia juga mengulas berbagai risiko di ruang digital, mulai dari kecanduan media sosial, perundungan siber (cyberbullying), penyalahgunaan data pribadi, penipuan daring, peretasan akun hingga penyebaran konten yang tidak pantas.
Para siswa juga diajak menjaga keamanan data pribadi dengan tidak sembarangan membagikan informasi sensitif maupun mengakses tautan yang mencurigakan. Ia turut mendorong pemanfaatan fitur keamanan, seperti autentikasi dua faktor, untuk melindungi akun digital.
Handphone Harus Menjadi Alat Produktif
Dalam sesi berikutnya, Sahuriyanto mengajak peserta didik mengubah cara pandang terhadap penggunaan handphone. Menurutnya, yang terpenting bukan sekadar boleh atau tidak menggunakan telepon pintar, melainkan bagaimana perangkat tersebut dimanfaatkan secara bijak.
“Bukan hanya boleh pakai HP atau tidak, tetapi dipakai untuk apa dan berapa lama? Handphone yang sama ketika berada di tangan kita bisa memberikan hasil yang berbeda, tergantung bagaimana kita menggunakannya,” jelasnya.
Ia mendorong siswa memanfaatkan handphone sebagai media belajar, mencari referensi, mengerjakan tugas, membuat karya, menghasilkan konten kreatif, hingga mengembangkan berbagai keterampilan yang bermanfaat.
Meski demikian, ia mengingatkan agar penggunaan handphone tidak mengganggu aktivitas utama sebagai pelajar, seperti belajar, berinteraksi dengan keluarga, beristirahat, maupun menjalankan kewajiban sehari-hari.
Sahuriyanto juga mengapresiasi kebijakan pembatasan penggunaan media sosial dan handphone yang diterapkan di lingkungan Sekolah Rakyat sebagai upaya menciptakan suasana belajar yang lebih fokus dan kondusif.
Ia berharap seluruh peserta didik mampu tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki literasi digital, etika, serta tanggung jawab dalam beraktivitas di ruang digital.
“Tujuan akhirnya adalah bagaimana kita membentuk masyarakat yang cakap digital, aman dan produktif. Anak-anak inilah yang nantinya menjadi generasi penerus, sehingga sejak sekarang harus dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara cerdas dan bijak,” tuturnya.
MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kendari menjadi bagian dari pembinaan awal peserta didik dengan melibatkan berbagai instansi sesuai bidangnya. Melalui kolaborasi tersebut, pengenalan lingkungan sekolah tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, serta kesiapan menghadapi tantangan perkembangan teknologi di era digital.






