Menu

Mode Gelap
 

Pendidikan & Budaya · 5 Agu 2021 ·

Taman dan Monumen Kalosara Bakal Dibangun di Kendari

  Rapat Rencana Pembangunan Taman dan Monumen Kalosara. Foto: Diskominfo Kota Kendari Perbesar

Rapat Rencana Pembangunan Taman dan Monumen Kalosara. Foto: Diskominfo Kota Kendari

Portal.id Kendari – Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari berencana membangun Taman dan Monumen Kalosara. Untuk merealisasikan pembangunan tersebut, Pemkot Kendari menggelar Focus Group Discission (FGD) dengan melibatkan tokoh masyarakat dan adat serta akademisi.

Pembangunan Taman dan Monumen Kalosara ini dimaksudkan sebagai wujud Pemkot Kendari dalam menjaga dan melestarikan budaya suku Tolaki.

“(FGD) ini bertujuan menyatukan persepsi masyarakat Tolaki tentang bentuk, makna, dan kedudukan Kalosara dalam kehidupan suku Tolaki,” tulis keterangan pertemuan tersebut dikutip dari laman resmi Pemkot Kendari.

Mereka yang dihadirkan dalam FGD dinilai memiliki kemampuan dari sisi pengalaman dan keilmuan tentang budaya suku Tolaki.

“Tokoh-tokoh dari suku Tolaki memiliki pengalaman karena selama ini mereka adalah tokoh-tokoh etnik Tolaki yang sangat intens menjaga, mengkaji dan memelihara budaya suku Tolaki,” terang keterangan tersebut.

Mereka yang diundang yakni Masyhur Masie Abunawas, mantan Wali Kota Kendari dua periode. Ia juga merupakan Ketua DPP Provinsi Lembaga Adat Tolaki (LAT) Sulawesi Tenggara.

Meike Anas Bunggasi yang merupakan mantan istri Bupati Kabupaten Kendari. Ia juga merupakan mantan anggota DPRD Kota Kendari

Basaula Tamburaka, pensiunan ASN, banyak menulis buku-buku tentang budaya suku Tolaki.

Bisman Saranani, pensiunan ASN, banyak mengetahui dan memahami tentang budaya suku Tolaki, serta menjabat Sekretaris DPP Provinsi Lembaga Adat Tolaki (DPP-LAT) Sulawesi Tenggara.

Basrin Melamba, akademisi, konsen mengkaji kebudayaan Tolaki.

Selain Tokoh dan akademisi orang Tolaki, pada kegiatan tersebut turut hadir Sekretaris Daerah Kota Kendari, Kepala Bappeda serta Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Dalam FGD disimpulkan bahwa dalam budaya orang Tolaki dikenal benda budaya “kalo” yang terdiri dari dua bentuk yakni : kalo hoalu (sara wonua) atau kalo delapan dan kalo o’aso (sara mbedulu).

Kalo satu, kalo hoalu disebut juga kalo wonua yang digunakan urusan penyelenggaraan kedaerahan termasuk dalam penyelenggaran pemerintahan.

Sedangkan kalo O’aso atau kalo mbedulu, kalo ini digunakan dalam kegiatan acara perkawinan pada masyarakat Tolaki, pertemuan raja.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Cegah Anarkisme Hukum, Demokrat Mentahkan Uji Materiil Yusril dengan Serahkan Bukti ke Kemenkumham

14 Oktober 2021 - 15:51

Wali Kota Kendari Terima Piala Kota Layak Anak

13 Oktober 2021 - 16:40

Gerak Cepat Rifki Saifullah Razak Serap Aspirasi Warga, Kantor Kelurahan Munse dan Sungai Lapulu Jadi Perhatian Serius

30 September 2021 - 22:39

Rifki Saifullah Razak

Temu Kangen Konstituen Rifki Saifullah Razak Gelar Reses di Munse Raya

30 September 2021 - 20:34

Temu Kangen Konstituen Rifki Zaifullah Razak Gelar Reses di Munse Raya

Kemendagri Berikan Nilai ‘Sangat Tinggi’ Untuk Penataan Kelembagaan Pemerintah di Sultra

28 September 2021 - 14:43

Harganas 2021, BKKBN Pusat Berikan Empat Penghargaan Bergengsi Untuk Sultra

28 September 2021 - 10:06

Trending di Politik & Pemerintahan
error: Share to copy paste !!