Uncategorized

PT Vale: Progres IGP Pomalaa 73,4 Persen, Komitmen Serap Tenaga Kerja dan UMKM Lokal

×

PT Vale: Progres IGP Pomalaa 73,4 Persen, Komitmen Serap Tenaga Kerja dan UMKM Lokal

Sebarkan artikel ini

Kolaka, Portal.id – Pembangunan proyek strategis nasional Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa milik PT Vale Indonesia Tbk terus melaju. Hingga awal Mei 2026, progres fisik keseluruhan proyek telah mencapai 73,4 persen dan dipastikan sesuai jadwal untuk mulai beroperasi secara komersial tahun ini.

Proyek IGP Pomalaa menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam mendukung hilirisasi nikel nasional. Di Sulawesi Tenggara, proyek ini dipandang sebagai motor penggerak ekonomi baru yang akan meningkatkan nilai tambah nikel di dalam negeri dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik dunia.

Head of External Relations PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma, menegaskan pembangunan IGP Pomalaa tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

“Kami secara aktif dan konsisten mendorong keterlibatan maksimal tenaga kerja lokal serta pelaku usaha daerah dalam setiap mata rantai kegiatan proyek ini. Tujuannya agar dampak positif ekonominya bisa dirasakan secara luas dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat Kolaka dan sekitarnya,” ujar Endra.

Proyek ini berpotensi menyerap ribuan tenaga kerja sejak tahap konstruksi hingga operasi penuh. Selain itu, peluang terbuka lebar bagi kontraktor lokal dan UMKM untuk memenuhi kebutuhan barang, jasa, logistik, dan kebutuhan harian. PT Vale menegaskan akan memprioritaskan mitra lokal yang memenuhi standar kualitas.

PT Vale juga menekankan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan lingkungan. Salah satu wujudnya adalah pembangunan fasilitas persemaian modern di kawasan Kebun Raya Kolaka dengan kapasitas produksi hingga satu juta bibit tanaman per tahun.

Fasilitas ini disiapkan untuk mendukung reklamasi dan rehabilitasi lahan pascatambang secara berkelanjutan. Langkah tersebut sejalan dengan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola atau ESG.

“Pengelolaan lingkungan yang baik dan pelaksanaan tanggung jawab sosial bukan sekadar kewajiban tambahan, melainkan bagian integral dalam setiap tahapan pengembangan proyek ini,” tegas Endra.

Keberhasilan IGP Pomalaa menjadi bukti konkret strategi pemerintah mempercepat hilirisasi nikel pasca larangan ekspor bijih mentah. Indonesia kini membangun ekosistem industri baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.

Dengan capaian lebih dari 70 persen, IGP Pomalaa diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur. Jika beroperasi penuh 2026, proyek ini diyakini memperkuat industri pengolahan nikel nasional dan membuka peluang investasi lanjutan di sektor energi baru terbarukan.

“Kunci utamanya adalah kerja sama. Kami ingin memastikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dari proyek ini dapat dirasakan secara inklusif dan berkelanjutan oleh seluruh masyarakat Kolaka dan Sulawesi Tenggara,” tambah Endra.

IGP Pomalaa dilengkapi sarana pendukung ramah lingkungan, mulai dari kolam pengendapan hingga instalasi pengolahan air limbah sesuai standar nasional dan internasional.

Teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) yang diterapkan mampu mengolah bijih nikel kadar rendah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Investasi PT Vale untuk proyek ini mencapai miliaran dolar AS, menjadikannya salah satu penanaman modal terbesar di Sultra. Pemerintah Kabupaten Kolaka menyambut antusias

Bupati menyebut IGP Pomalaa sebagai anugerah yang akan mengubah wajah Kolaka menjadi kota industri modern namun tetap peduli lingkungan.

Kini, tim proyek mengejar penyelesaian sisa 26,6 persen pembangunan sambil menjaga standar keselamatan kerja dan kualitas. IGP Pomalaa ditargetkan menjadi contoh industri pertambangan modern: maju secara ekonomi, ramah lingkungan, dan menjadi mitra bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id