Kendari, portal.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara menetapkan sebanyak 15 kelurahan di kota itu yang ditetapkan menjadi lokus penurunan “stunting” (kekerdilan pada anak) tahun 2022.
Ke-15 kelurahan itu adalah Kelurahan Tobimeita, Talia, Puday, Ponggaloba, Poasia, Bungkutoko, Lepo-lepo, Sambuli, Purirano, Petoaha, Lalodati, Baruga, Labibia, Anaiwoi dan kelurahan Sanua.
Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu, Senin (17/4/23) menyebutkan bahwa pihaknya juga telah menetapkan kelurahan yang menjadi lokus penanganan stunting untuk 2023 yakni sebanyak 10 kelurahan.
“Dari jumlah kelurahan tersebut empat kelurahan diantaranya juga menjadi lokus stunting di tahun 2022 ini, sebab empat kelurahan tersebut masih layak masuk dalam lokus stunting di tahun 2023 mendatang diakibatkan prevalensi stunting di empat kelurahan itu masih cukup tinggi, meski prevalensi di tahun 2022 mengalami penurunan,” katanya.

Empat kelurahan yang menjadi lokus stunting 2022 dan kembali menjadi lokus penanganan stunting untuk 2023 yakni Kelurahan Purirano, Kelurahan Punggaloba, Kelurahan Anawai dan kelurahan Baruga.
Kepala Dinas Dalduk dan KB kendari, Jahuddin, menyebutkan pada tahun 2022 prevalensi tertinggi Stunting di Kendari terjadi di Kecamatan Kendari sebesar 2,7 persen, disusul Kecamatan Kendari Barat 2,6 persen dan di urutan ketiga ada Kecamatan Abeli dan Kecamatan Wua-wua masing-masing sebesar 2,3 persen.
“Jadi terdapat 5 Kecamatan dengan angka prevalensi stunting tertinggi tahun 2020-2022 yaitu Kecamatan Puuwatu, Kendari Barat, Kendari, Wua-wua dan Abeli,” katanya.
Ia juga menyebutkan bahwa data trend perkembangan jumlah balita stunting tahun 2020-2022 menunjukkan bahwa, jumlah balita stunting di Kota Kendari rata-rata mengalami penurunan dari tahun 2020 ke tahun 2021 yaitu 466 orang menjadi 227 orang, tetapi mengalami peningkatan di tahun 2022 yaitu 365 orang.

“Beberapa Kecamatan dengan jumlah balita stunting tertinggi tahun 2022 adalah Kecamatan Kendari Barat, Kendari dan Puuwatu. Tetapi terdapat 3 Kecamatan yang mengalami penurunan jumlah balita stunting dari tahun 2020-2022 yakni, Kecamatan Mandonga, Baruga dan Kadia,” katanya.
Menurutnya, data itu menegaskan bahwa sebaran jumlah balita stunting yang meningkat menunjukkan masih tingginya masalah gizi dan faktor determinan pada balita yang ditemui di wilayah tersebut dan perlu terus dilakukan intervensi gizi spesifik dan sensitif.
Secara terpisah Kepala BKKBN Sultra, Asmar, mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Pemkot Kendari dalam melakukan penanganan stunting yang dimulai dari penetapan lokus.

“Kinerja Pemkot Kendari menjadi lebih terukur dalam penanganan stunting, sehingga wajar kalau Pemkot Kendari yang menjadi yang terendah kasus stunting di Sultra saat ini,” katanya.
Sebelumnya, Tenaga Ahli Bina Bangda Kemendagri Lukman mengatakan stunting itu terjadi pada tumbuh kembang saat balita, kekurangan gizi pada 1000 hari kehidupan atau saat janin itu ada sehingga akan berdampak jangka panjang.
Menurut dia, faktor utama stunting itu, berdasar faktor nutrisi gizi, pola asuh dan lingkungan yang harus sehat.

Ia mengakui di Sulawesi Tenggara (Sultra) maka Kota Kendari merupakan kota yang penanganan stuntingnya dilakukan dalam gerak cepat.
“Dari 10 kabupaten kota lokus stunting di Sulawesi Tenggara, maka Kota Kendari termasuk tercepat dan aktif dalam proses pembentukan gugus tugas penanganan stunting,” kata Lukman.(ADV)






