Kendari, portal.id – Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) berkomitmen untuk terus mengembangkan dan melestarikan seni budaya lokal di daerah itu yang kondisinya saat ini mulai ditinggalkan oleh generasi karena tergerus oleh perkembangan saman.
Salah satunya adalah adalah menggelar lomba seni musik bambu bertempat di Kawasan Tugu Persatuan Kendari Alun-alun Kendari, Jumat (5/5/23) yang diikuti perwakilan SMP se Kota Kendari yang memanfaatkan moment HUT ke-192 Kota Kendari 2023.
Adalah SMPN 15 Kendari meraih peringkat pertama pada lomba musik bambu ini, diurutan kedua diraih oleh SMPN 12 Kendari, sementara itu untuk posisi ke tiga diraih oleh SMPN 7 Kendari.
Ketua Dewan Juri lomba musik bambu H. Darma mengapresiasi usaha peserta lomba, sebab dengan waktu kurang dari satu bulan, peserta musik bambu mampu memberikan yang terbaik pada lomba tahun ini.

“Saya sangat bangga melihat penampilan adek-adek sekalian yang begitu tangguh, bisa menguasai lagu-lagu, walapun masih ada satu dua nada yang tidak tepat bunyinya,” ujarnya sebelum pengumuman lomba.
Kata dia, memainkan musik bambu membutuhkan latihan yang rutin dengan mulai memperlajari dasar-dasar musik bambu. Mulai dari belajar meniup hingga mempelajari not lagu.
Menurutnya latihan musik bambu membutuhkan waktu tiga bulan agar peniupan hingga memperlajari not lagu dapat lebih dikuasai.
“Kalau saya lihat tadi penampilannya bagus-bagus. Namun ada yang tidak bunyi namun ada yang kadang bunyi di tengah, kemudian suling juga ada yang melewati beberapa buah not, tapi ada juga yang sudah melewati normal peniupannya itulah yang kita beri nilai tertinggi,” jelasnya.

Dirinya berpesan agar peserta yang tidak memperoleh juara pada tahun ini agar mencoba kembali di tahun berikutnya.
Diakhir perlombaan, ditutup dengan parade musik bambu yang dimainkan oleh seluruh peserta lomba dari sembilan sekolah secara bersamaan.
Pada tahun 1970an, musik bambu pernah menjadi salah satu alat musik populer, terutama di daerah Sulawesi Tenggara. Namun, perkembangan zaman dan kehadiran berbagai alat musik modern membuat alat musik bambu ini mulai memudar terutama pada era tahun 2000an.

Berbagai pihak seperti pemerintah daerah, seniman, hingga masyarakat lokal terus berusaha melakukan upaya pelestarian Baasi. Salah satunya dengan mengajarkan seni musik bambu pada generasi muda, yaitu siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Secara garis besar, alat musik bambu ini mengeluarkan jenis suara tenor dan bass yang dipadukan dengan seruling dan gendang. Khusus untuk jenis suara tenor, ada dua jenis alat musiknya, yaitu tenor berbadan satu dan tenor berbadan dua.
Untuk menghasilkan suara terbaik, jenis bambu yang digunakan sebagai alat musik bambu merupakan potongam batang bambu pilihan.

Musik bambu biasanya digunakan sebagai instrumen untuk mengiringi nyanyian atau tarian tradisional. Untuk mendapatkan nada yang harmonis dan menarik, Musik bambu dimainkan bersama dengan alat musik lain, seperti seruling dan gendang. Namun, alat musik ini juga bisa dimainkan pertunjukan seni musik tunggal, tanpa iringan alat musik lain.
Pemerintah daerah juga kerap mengadakan festival budaya untuk memperkenalkan Baasi pada masyarakat umum. Harmoni nan merdu dari alat musik bambu ini pernah memukau 25 orang duta besar asing dalam momen Hari Pangan Sedunia ke-39 di Sulawesi Tenggara pada tahun 2019.
Pada acara tersebut, tamu-tamu asing disuguhkan dengan penampilan musik bambu yang membuat mereka terpukau hingga mengabadikannya lewat ponsel mereka masing-masing dengan ekspresi kagum.
Semoga Musik Bambu khas Sulawesi Tenggara khussnya di Kota Kendari ini kian bergema dan terus terjaga.(ADV)






