#Advetorial#HeadlineFokus Redaksi

Lestarikan Seni Budaya Lokal, Pemkot Kendari Gelar Lomba Lulo Tradisional  

×

Lestarikan Seni Budaya Lokal, Pemkot Kendari Gelar Lomba Lulo Tradisional  

Sebarkan artikel ini
Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu saat lulo bersama para peserta lomba

Kendari, portal.id – Kegiatan Pagelaran Seni dan Budaya lingkup Pemerintah Kota Kendari, dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-192, salah satu kegiatan lomba yang sudah berlangsung adalah lomba Tari Lulo Tradisional yang diselenggarakan Pemeirntah Kota Kendari,  Kamis 4 Mei 2023 malam.

PJ Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu, yang menyaksikan langsung kegiatan tersebut sangat mengapresiasi terhadap seluruh p[eserta dari 11 kecamatan yang berpartisipasi dalam moment upaya pelekstarian seni budaya lokal tersebut.

Bahkan Pj Wali Kota juga sempat memberikan masukan terkait esesnsi, pakem atau aturan dan etika dalam pelaksanaan tari lulo tersebut pada setiap moment di masyarakat, misalnya ketika ada yang hendak masuk bergabung dalam lingkaran tarian itu harus masuk lewat depan dan terlebih dahulu meminta izin, kemudian tidak boleh masuk atau memisahkan diantara lelaki dan perempuan, dan jika lingkaran terputus tidak membentuk lingkaran penuh maka yang hartus berada di dua ujung lingkaran harus laki-laki.

Peserta lomba dari Kecaatan baruga yang menjadi juara satu

Dalam lomba tersebut, tim tari Lulo tradisional dari Kecamatan Baruga Tampil sebagai juara pertama dengan nilai 1.760, mengalahkan 10 kecamatan lainnya di kota Kendari.

“Mengenai yang juara, kami dewan juri sudah berdiskusi dan menetapkan apa yang menjadi ketetapan kita, walaupun memang juri tidak mempunyai penilaian yang sama. Tapi melalui diskusi dan pertimbangan-pertimbangan sampai akhirnya kita mengerucut kesatu ketetapan bagaimana juknis dan bagaimana esensi dari Lulo tradisional itu tercapai,” ujar Muhamad Iqbal Piagi yang biasa disapa kak Iko yang juga ketua dewan tim juri yang ditemui usai lomba, Kamis (4/5/23).

Sementara itu, Camat Baruga Sentosa menyampaikan ungkapan apresiasi luar biasa kepada juri dan dukungan penonton serta kekompakan tim tari Lulo tradisional sehingga Tim Lulo Kecamatan Baruga bisa tampil maksimal dan menjadi juara pertama.

“Alhamdulillah, kami sudah tunjukkan penampilan terbaik kami, sehingga bisa tampil sebagai juara pertama. Tim kami merupakan ibu-ibu PKK dan ibu lurah se-Kecamatan Baruga dan tidak ada satupun dari sanggar. Kami sudah mempersiapkan selama sebula, dan hasilnya sudah terlihat malam ini.” ujarnya.

Salah satu kelompok peserta lulo tradisional

Sementara itu, Koordinator lomba kesenian, Adriana Musaruddin yang juga Sekretaris Dewan DPRD Kota Kendari menyampaikan ungkapan syukur, sehingga pagelaran lomba yang berlangsung bisa berjalan lancar.

“Kami selaku panitia sudah berupaya keras sehingga acara bisa berjalan lancar walau ada sedikit kendala teknis, namun itu bisa diatasi, apalagi malam ini bapak PJ Wali Kota dan rombongan berkesempatan hadir dan Lulo bersama peserta dan tamu undangan lainnya. Sekali lagi ini merupakan kekompakan tim sekretariat DPRD, terimakasih dan sukses buat acara lainnya, selamat menyambut HUT Kota Kendari ke-192,” tutupnya.

Pj wali Kota Kendari bersama anggota DPRD Kendari La Ode Lawama antusiah menyaksikan lomba lulo tradisional

Untuk diketahui, hasil lomba tari Lulo tradisional menetapkan 6 juara, berikut urutannya:

Juara 1 – Kecamatan Baruga

Juara 2 – Kecamatan Wua Wua

Juara 3 – Kecamatan Kadia

Harapan 1 – Kecamatan Mandonga

Harapan 2 – Kecamatan Abeli

Harapan 3 – Kecamatan Nambo.

Tari lulo merupakan salah satu tarian tradisional masyarakat Kendari hingga saat ini masih eksis meskipun telah mengalami pergeseran fungsi sebagai respon terhadap perubahan kebudayaan.

Pada awalnya, tari lulo merupakan ritual untuk memuja Dewi Padi terutama pada seusai panen. Kata lulo sendiri berarti menginjak-injak onggokan padi untuk melepaskan bulir dari tangkainya. Dengan demikian, tari lulo merupakan ekspresi kebudayaan yang berdasarkan pada pertanian.

Lulo bersama seluruh peserta usai lomba

Namun seiring perkembangan zaman, tari lulo tidak lagi dimainkan sebagai ritual pesta panen, tetapi menjadi hiburan masyarakat Kendari dalam berbagai even sosial seperti perkawinan, ulang tahun, penyambutan tahun baru dan bahkan pada saat MTQ Nasional kemarin tari lulo juga ditampilkan.

Sejarah munculnya tari lulo, tidak terlepas dari dari sistem mata pencaharian dan sistem kepercayaan lokal masyarakat Tolaki kuno. Suku Tolaki kuno dikenal sebagai suku yang menempati wilayah dataran dan pegunungan. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani.

Tari lulo pada mulanya berkembang dari kebiasan masyarakat Tolaki yang menginjak-injakkan kaki kiri untuk membuka bulir-bulir padi pada saat panen. Tradisi menginjak padi ini dikenal dalam bahasa Tolaki dengan Molulowi opae. Molulowi berarti menginjak-injakkankaki, dan opae artinya padi.(ADV)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id
#Advetorial#HeadlineFokus Redaksi

Lestarikan Seni Budaya Lokal, Pemkot Kendari Gelar Lomba Lulo Tradisional  

×

Lestarikan Seni Budaya Lokal, Pemkot Kendari Gelar Lomba Lulo Tradisional  

Sebarkan artikel ini
Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu saat lulo bersama para peserta lomba

Kendari, portal.id – Kegiatan Pagelaran Seni dan Budaya lingkup Pemerintah Kota Kendari, dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-192, salah satu kegiatan lomba yang sudah berlangsung adalah lomba Tari Lulo Tradisional yang diselenggarakan Pemeirntah Kota Kendari,  Kamis 4 Mei 2023 malam.

PJ Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu, yang menyaksikan langsung kegiatan tersebut sangat mengapresiasi terhadap seluruh p[eserta dari 11 kecamatan yang berpartisipasi dalam moment upaya pelekstarian seni budaya lokal tersebut.

Bahkan Pj Wali Kota juga sempat memberikan masukan terkait esesnsi, pakem atau aturan dan etika dalam pelaksanaan tari lulo tersebut pada setiap moment di masyarakat, misalnya ketika ada yang hendak masuk bergabung dalam lingkaran tarian itu harus masuk lewat depan dan terlebih dahulu meminta izin, kemudian tidak boleh masuk atau memisahkan diantara lelaki dan perempuan, dan jika lingkaran terputus tidak membentuk lingkaran penuh maka yang hartus berada di dua ujung lingkaran harus laki-laki.

Peserta lomba dari Kecaatan baruga yang menjadi juara satu

Dalam lomba tersebut, tim tari Lulo tradisional dari Kecamatan Baruga Tampil sebagai juara pertama dengan nilai 1.760, mengalahkan 10 kecamatan lainnya di kota Kendari.

“Mengenai yang juara, kami dewan juri sudah berdiskusi dan menetapkan apa yang menjadi ketetapan kita, walaupun memang juri tidak mempunyai penilaian yang sama. Tapi melalui diskusi dan pertimbangan-pertimbangan sampai akhirnya kita mengerucut kesatu ketetapan bagaimana juknis dan bagaimana esensi dari Lulo tradisional itu tercapai,” ujar Muhamad Iqbal Piagi yang biasa disapa kak Iko yang juga ketua dewan tim juri yang ditemui usai lomba, Kamis (4/5/23).

Sementara itu, Camat Baruga Sentosa menyampaikan ungkapan apresiasi luar biasa kepada juri dan dukungan penonton serta kekompakan tim tari Lulo tradisional sehingga Tim Lulo Kecamatan Baruga bisa tampil maksimal dan menjadi juara pertama.

“Alhamdulillah, kami sudah tunjukkan penampilan terbaik kami, sehingga bisa tampil sebagai juara pertama. Tim kami merupakan ibu-ibu PKK dan ibu lurah se-Kecamatan Baruga dan tidak ada satupun dari sanggar. Kami sudah mempersiapkan selama sebula, dan hasilnya sudah terlihat malam ini.” ujarnya.

Salah satu kelompok peserta lulo tradisional

Sementara itu, Koordinator lomba kesenian, Adriana Musaruddin yang juga Sekretaris Dewan DPRD Kota Kendari menyampaikan ungkapan syukur, sehingga pagelaran lomba yang berlangsung bisa berjalan lancar.

“Kami selaku panitia sudah berupaya keras sehingga acara bisa berjalan lancar walau ada sedikit kendala teknis, namun itu bisa diatasi, apalagi malam ini bapak PJ Wali Kota dan rombongan berkesempatan hadir dan Lulo bersama peserta dan tamu undangan lainnya. Sekali lagi ini merupakan kekompakan tim sekretariat DPRD, terimakasih dan sukses buat acara lainnya, selamat menyambut HUT Kota Kendari ke-192,” tutupnya.

Pj wali Kota Kendari bersama anggota DPRD Kendari La Ode Lawama antusiah menyaksikan lomba lulo tradisional

Untuk diketahui, hasil lomba tari Lulo tradisional menetapkan 6 juara, berikut urutannya:

Juara 1 – Kecamatan Baruga

Juara 2 – Kecamatan Wua Wua

Juara 3 – Kecamatan Kadia

Harapan 1 – Kecamatan Mandonga

Harapan 2 – Kecamatan Abeli

Harapan 3 – Kecamatan Nambo.

Tari lulo merupakan salah satu tarian tradisional masyarakat Kendari hingga saat ini masih eksis meskipun telah mengalami pergeseran fungsi sebagai respon terhadap perubahan kebudayaan.

Pada awalnya, tari lulo merupakan ritual untuk memuja Dewi Padi terutama pada seusai panen. Kata lulo sendiri berarti menginjak-injak onggokan padi untuk melepaskan bulir dari tangkainya. Dengan demikian, tari lulo merupakan ekspresi kebudayaan yang berdasarkan pada pertanian.

Lulo bersama seluruh peserta usai lomba

Namun seiring perkembangan zaman, tari lulo tidak lagi dimainkan sebagai ritual pesta panen, tetapi menjadi hiburan masyarakat Kendari dalam berbagai even sosial seperti perkawinan, ulang tahun, penyambutan tahun baru dan bahkan pada saat MTQ Nasional kemarin tari lulo juga ditampilkan.

Sejarah munculnya tari lulo, tidak terlepas dari dari sistem mata pencaharian dan sistem kepercayaan lokal masyarakat Tolaki kuno. Suku Tolaki kuno dikenal sebagai suku yang menempati wilayah dataran dan pegunungan. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani.

Tari lulo pada mulanya berkembang dari kebiasan masyarakat Tolaki yang menginjak-injakkan kaki kiri untuk membuka bulir-bulir padi pada saat panen. Tradisi menginjak padi ini dikenal dalam bahasa Tolaki dengan Molulowi opae. Molulowi berarti menginjak-injakkankaki, dan opae artinya padi.(ADV)

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id