Kolaka, portal.id – Kakanwil Kemenag Provinsi Sultra, H. Mansur, S. Pd., MA, membuka secara resmi Kegaiatan Pengembangan Keprofesian Guru (PKG) PAI Kab. Kolaka, di Gedung Serbaguna Al Furqan Kolaka. Selasa (20/1/2026).
Hadir Kepala Kantor Kemenag Kab. Kolaka, Hj. Erna Kemalaraden, Pejabat Pengawas Kantor Kemenag Kolaka, Narasumber dan para Guru PAI se Kab. Kolaka.
Kakanwil, H. Mansur dalam sambutannya mengatakan Transformasi Paradigma Pendidikan Kurikulum Berbasis Cinta merupakan salah satu program transformasi dunia pendidikan di Kementerian Agama yang tidak sekadar penyesuaian buku ajar atau perangkat pembelajaran, melainkan transformasi paradigma pendidikan secara menyeluruh.
“Kurikulum berbasis cinta ini adalah transformasi paradigma pendidikan kita. Yang kita transformasikan adalah bagaimana kecerdasan anak-anak kita berubah menjadi manusia seutuhnya,” terang Kakanwil dalam acara tersebut.
Ia mengungkapkan Enam Kecerdasan untuk Masa Depan Berbeda dengan pendekatan konvensional yang hanya menekankan tiga kecerdasan (intelektual, emosional, dan spiritual).
“Kurikulum Berbasis Cinta mengembangkan enam jenis kecerdasan antara lain Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Digital, Kecerdasan Ekologi dan Kecerdasan Kepemimpinan Transformasi,” terangnya.
Kakanwil juga menggarisbawahi pentingnya peran strategis Guru yang dirumuskan dalam konsep “Empat Wajah Guru” dalam Kurikulum Berbasis Cinta.
Pertama Guru sebagai Pendidik. Menurutnya Guru menjadi penjaga adab dan arah peradaban, menuntun siswa tidak hanya cerdas berpikir, tetapi jernih dalam merasa dan benar dalam bertindak.
Kedua, lanjutnya, Guru sebagai Murabbi. Murabbi adalah penumbuh fitrah kemanusiaan dengan cinta. Guru tidak memaksakan kehendaknya, melainkan membantu anak menjadi dirinya sendiri sesuai potensi dan cita-citanya.
“Ketiga, Guru sebagai Muaddib. Guru membentuk adab sebelum ilmu. “Orang yang tinggi ilmunya belum tentu dihargai, tapi orang yang tinggi adabnya bisa hidup di mana-mana,” ujarnya.
Keempat, Kata Kakanwil, Guru sebagai Arsitek Pembelajaran. Guru harus mampu merancang pembelajaran yang menarik dan terus berkembang, seperti arsitek yang menciptakan bangunan indah dan bermanfaat.
Tantangan dan Harapan Program ini menjadi respons terhadap berbagai tantangan pendidikan modern, termasuk radikalisme, bullying, hoaks, dan pemahaman keagamaan yang keliru yang banyak menyebar melalui media sosial.
Melalui Pembinasan Teknis dan Pengembangan Keprofesian Guru ini, diharapkan para guru Madrasah dan guru pendidikan agama dapat mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta untuk mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat menghadapi tantangan masa depan”






