#HeadlineBaubauFokus RedaksiPendidikan & Budaya

Kakanwil Kemenag Sultra Panen Raya Jamur Tiram di MAN 1 Baubau

×

Kakanwil Kemenag Sultra Panen Raya Jamur Tiram di MAN 1 Baubau

Sebarkan artikel ini

Baubau, portal.id — Program ekoteologi yang digagas MAN 1 Baubau membuktikan bahwa pendidikan agama tidak berhenti pada tataran wacana. Panen Raya Jamur Tiram yang dilaksanakan di lingkungan madrasah menjadi simbol konkret integrasi nilai-nilai keislaman dengan kesadaran ekologis.

Kegiatan ini dihadiri dan secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, H. Mansur, yang menegaskan bahwa madrasah harus menjadi pelopor gerakan perubahan berbasis nilai dan aksi.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa program budidaya jamur tiram bukan sekadar kegiatan keterampilan, tetapi bentuk implementasi ekoteologi, kesadaran bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman.

“Ekoteologi bukan konsep di ruang seminar. Ini adalah gerakan. Ketika siswa MAN 1 Baubau menanam, merawat, hingga memanen jamur tiram, mereka sedang mempraktikkan amanah sebagai khalifah fil ardh. Inilah wajah madrasah masa depan: religius, produktif, dan solutif,” tegasnya.

Panen raya ini menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis lingkungan dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi sekaligus membangun karakter peduli lingkungan. Program ini juga membuka peluang kewirausahaan siswa serta memperkuat kemandirian madrasah.

Sementara itu, PLT Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Baubau, memberikan apresiasi atas terobosan tersebut. Ia menyatakan bahwa program ini sejalan dengan arah kebijakan transformasi madrasah yang berbasis keberlanjutan.

“MAN 1 Baubau telah menunjukkan bahwa madrasah mampu menjadi pusat inovasi. Ekoteologi diterjemahkan dalam praktik nyata, memberi dampak edukatif sekaligus ekonomi. Ini model yang layak direplikasi di madrasah lain di Kota Baubau,” ujarnya.

Kepala MAN 1 Baubau menambahkan bahwa budidaya jamur tiram dipilih karena ramah lingkungan, bernilai ekonomis, dan mudah dikembangkan sebagai laboratorium hidup pembelajaran lintas mata pelajaran, mulai dari Fikih lingkungan, Biologi, hingga Kewirausahaan.

Panen raya ini tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga melahirkan kesadaran kolektif bahwa krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan dengan retorika. Dibutuhkan gerakan nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Dengan langkah ini, MAN 1 Baubau menegaskan posisinya sebagai madrasah berbasis ekoteologi, membumikan ajaran Islam dalam aksi pelestarian lingkungan, memperkuat ekonomi produktif, dan membangun generasi beriman yang berdaya saing.

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id