Wakatobi, portal.id — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, H. Mansur, S.Pd., MA, secara resmi membuka Workshop Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Manajemen Madrasah di lingkungan MAN 1 Wakatobi, Selasa (21/4/2026).
Dalam sambutannya, Kakanwil menegaskan bahwa workshop tersebut bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan bagian dari strategi besar pengembangan pendidikan untuk menjawab tantangan transformasi global yang terus berkembang.
“Dunia berubah sangat cepat, bahkan lebih cepat dari kemampuan kita dalam mengajar. Karena itu, guru tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama dalam proses pembelajaran,” tegas Mansur.
Ia menyoroti tingginya ekspektasi masyarakat dan orang tua terhadap lembaga pendidikan, yang menuntut madrasah untuk lebih adaptif, inovatif, dan responsif. Menurutnya, pembelajaran tidak bisa hanya terpaku pada kurikulum secara tekstual, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.
Kakanwil juga menekankan pentingnya integrasi tiga pilar utama dalam pendidikan madrasah, yakni kurikulum deep learning (mendalam), kurikulum berbasis cinta (empati), serta transformasi digital.
“Kita tidak hanya ingin melahirkan manusia yang pintar, tetapi juga manusia yang bijak. Intelektual saja tidak cukup. Harus diimbangi dengan kecerdasan ekologi, empati, dan karakter,” ujarnya.
Menurutnya, Wakatobi sebagai daerah perjumpaan berbagai budaya dan latar belakang memiliki potensi besar untuk mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal melalui pendidikan madrasah. Oleh karena itu, madrasah harus menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai kebijaksanaan, empati, dan spiritualitas kepada peserta didik.
Dalam penjelasannya, Mansur menguraikan konsep kurikulum deep learning sebagai upaya menggali potensi siswa secara optimal, bukan sekadar meningkatkan jam belajar atau hafalan. Guru dituntut mampu mengembangkan kompetensi nyata peserta didik sesuai bakat dan potensi lokal, termasuk peluang di sektor pariwisata seperti snorkeling dan diving yang menjadi keunggulan daerah Wakatobi.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penerapan kurikulum berbasis cinta melalui pendekatan pembelajaran yang humanis dan penuh empati. Ia mengingatkan agar guru menghindari praktik-praktik yang berpotensi menimbulkan bullying, baik secara verbal maupun psikologis.
“Guru harus menghadirkan kasih sayang di kelas. Jangan sampai kata-kata guru justru menjadi sumber bullying bagi siswa,” pesannya.
Di sisi lain, transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi perhatian utama. Mansur menegaskan bahwa teknologi bukan lagi sekadar alat bantu belajar, tetapi telah menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan dan strategi pembelajaran.
“Guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi, termasuk AI, agar pembelajaran menjadi lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman,” tambahnya.
Olehnya itu, melalui workshop ini, Kakanwil berharap terwujud integrasi pembelajaran yang mendalam secara intelektual, hangat secara emosional, serta adaptif terhadap teknologi. “Para guru menjadi arsitek pembelajaran yang visioner, penggerak nilai-nilai karakter, dan navigator teknologi yang bijaksana,” pungkasnya.
Turut hadir, Kepala Kantor Kemenag Kab. Wakatobi, H. La Rija, Pejabat Pengawas Kantor Kemenag Kab. Wakatobi, Kepala MAN 1 Wakatobi dan segenap Guru MAN 1 Wakatobi.






