Kendari, portal.id – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) tumbuh subur yang menandakan bahwa geliat perekonomian pada UMKM di Kota Kendari terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Kota Kendari, Aldakesutan Lapae, mengatakan jumlah pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di daerah itu tumbuh 100 persen atau dua kali lipat dari kondisi sebelum pandemi.
“Dalam catatan kami, sebelum pandemi COVID pada tahun 2019 jumlah UMKM yang terdapat di Kota Kendari tercatat sebanyak 18.000 lebih, mengalami kenaikan menjadi sebanyak 22 ribu pada masa pandemi COVID-19, kemudian setelah pandemi COVID-19 pada catatan akhir Desember 2022 jumlahnya mencapai 41.939 pelaku UMKM,” kata Aldakesutan, di Kendari, Minggu (21/5/23).
Kemudian, lanjutnya, pihaknya mencatat pada masa setelah pandemi COVID-19, tercatat ada peningkatan pada pelaku UMKM menjadi sebanyak 41.939.

Dikatakan, jumlah itu diketahui setelah dibuka pendaftaran online terhadap UMKM yang ada melalui Online Data System (ODS).
Dikatakan, kondisi itu menggambarkan bahwa sektor UMKM menjadi penopang utama pergerakan ekonomi di Kendari selama pandemi COVID-19, sehingga pertumbuhan ekonomi Kendari saat pandemi tidak mengalami keterpurukan yang signifikan dibanding beberapa daerah lain di Sultra.
“Artinya bahwa masa pandemi menjadikan minat masyarakat untuk berusaha meningkat. Tetapi, tidak bisa kita pungkiri bahwa tidak sedikit pula usaha dan industri menengah yang gulung tikar saat itu, Namun, Usaha Kecil dan Mikro mampu bertahan dalam keadaan apapun bahkan tumbuh subur,” katanya.
Ia mengatakan, Pemkot terus berupaya untuk mendorong pengembangan dan pertumbuhan sektor UMKM, salah satunya dengan mengusung konsep mampu bersaing dan memiliki pasaran yang luas.

“Kita terus berupaya mendorong para pelaku UMKM ini dengan konsep go digital. Termasuk permodalan yang sering mengemuka dari problem-problem UMKM kita kita menemui mereka di lapangan,” katanya.
Pemerintah kota kata dia, terus mendorong agar usaha masyarakat berskala rumahan, yang hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat meningkatkan menjadi skala industri rumah tangga, sehingga dapat berkembang dan dapat menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat di sekitarnya.
“Yang terpenting lagi, bahwa awalnya hanya skala rumahan dengan pasaran lokal, ke depan bisa menghasilkan produk yang bisa memenuhi permintaan pasar skala nasional.
Untuk mencapai sasaran itu, saat ini terdapat 2.000 pelaku UMKM yang telah dilatih untuk dapat memasarkan produknya hingga go nasional.

“Pelatihan dilakukan secara sistematis mulai dari peningkatan kapasitas, label halal, go digital, go Online, dan go global,” kata Aldakesutan.
Ia mengungkapkan bahwa UMKM tersebut yang tercatat menggunakan izin ada sebanyak 982 pelaku UMKM. Jumlah tersebut dihitung sesuai dengan jumlah UMKM yang mengajukan izin melalui Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu atau PTSP Kota Kendari.
“Meningkatnya pelaku UMKM di Kota Kendari juga tidak lepas dari pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh Disperdagkop, baik menggunakan DAK (Dana Alokasi Khusus) maupun APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja) Kota Kendari, seperti pelatihan pengelolaan manajemen UMKM agar produk yang dihasilkan di antaranya bisa go online, go internet, go global dan beberapa aplikasi lainnya,” ungkap Alda Kesutan Lapae.

Ia menjelaskan bahwa dengan adanya sistem digital yang membantu para UMKM itu bisa mempelajari untuk bagaimana bisa memasarkan produk yang dijualnya.
“Dengan adanya sistem digitalisasi tidak bisa terabaikan, karena yang sangat mempengaruhi UMKM itu adalah bagaimana caranya memasarkan produk mereka untuk bisa merubah bentuk produk mereka yang akan ditawarkan,” lanjutnya.
Alda Kesutan Lapae berharap dengan adanya pelatihan-pelatihan yang dilakukan kepada pelaku UMKM ini dapat lebih meningkatkan pemasaran UMKM dan hasil produksi yang dihasilkan dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian khususnya di Kota Kendari.(ADV)






