Kendari, portal.id – Pelaku usaha Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui CV Sengkang Duta Comoditi bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sultra dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sultra kembali mengantarpulaukan komoditi jagung pipil sebanyak 24 ton ke Jawa Timur, Selasa.
Kepala Bidang (Kabid) Perencanaan Iklim, Penanaman Modal dan Promosi DPM-PTSP Sultra, Askar Karim, mengatakan, pemprov sangat mendukung kegiatan tersebut karena berkaitan dengan investasi daerah.
“Alhamdulillah, dengan adanya dukungan dari Kadin Sultra, kami membangun mitra untuk meningkatkan investasi daerah melalui pengiriman hasil bumi di Sultra kel luar daerah,” kata Askar.
Menurut dia, potensi alam di Sultra sangat besar, hanya pemanfaatannya yang masih belum maksimal sehingga dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak sehingga potensi itu bisa dimanfaatkan secara maksimal.
“Kolaborasi tersebut akan memberikan efek domino yang apabila investasinya berjalan dengan baik maka tingkat pendapatan dan kesejahteraan petani juga meningkat,” katanya.
Ia mengaku, bentuk dukungan yang diberikan DPM-PTSP Sultra terhadap petani dengan memberikan kepastian hukum seperti perizinan termasuk upaya untuk menyalurkan produksinya melalui kerja sama dengan Kadin Sultra
Wakil Ketum Kadin Bidang Pasar Modal KAdin Sultra, Sastra Alamsyah, mengatakan nilai ekonomis dari 24 ton pengiriman jagung pipil tersebut adalah Rp144 juta.
“Pengiriman komoditi jagung pipil ke Jawa Timur karena adanya misi dagang dengan pemerintah setempat yang hampir rutin tiap bulan dilakukan pengiriman ke provinsi tersebut,” katanya.
Sementara itu. Pimpinan CV Sengkang Duta Comoditi, Kamarudin, mengatakan jagung yang dikirim tersebut berasal dari hasil serapan petani di seluruh wilayah Sultra pada Februari 2023.
“Serapan paling banyak di wilayah Kabupaten Muna, Muna Barat, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara dan Kolaka Timur,” katanya.
Ia menargetkan tahun ini bisa mengantasrpulakna komoditi jagung ke Jawa Timur higga 2.000 ton, sebagaimana capaian pengiriman tahun lalu lebih 2.000 ton.
“Untuk produksi komoditi jagung oleh petani di wilayah Sultra tidak terputus, hanya waktu panen rayanya biasa dilakukan pada Maret hingga Juni,” katanya.
Ia mengaku, membeli komoditi jagung pipil dari petani tersebut dalam keadaan kering sehingga bisa langsung dikirim ke provinsi tujuan.
“Jagung tidak bisa dibeli dalam keadaan basah karena tidak ada alat pengering yang dimiliki. Sehingga tidak bisa mengirim sesuai permintaan jumlah dan tingkat kekeringan yang diinginkan pembeli,” katanya.






