Manado, portal.id – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menyambut baik peran Bunda Pendamping Keluarga dalam Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Sulawesi Utara.
Apresiasi itu disampaikan dokter Hasto menanggapi sambutan Ir. Rita Maya Dondokambey selaku Bunda Pendamping Keluarga Provinsi Sulut yang menyampaikan fenomena banyaknya keluarga baru yang melahirkan anak dengan kondisi stunting. Untuk itu, diperlukan kehadiran seorang Bunda Pendamping Keluarga.
Dalam sambutannya, Rita mengingatkan bahwa Bunda Pendamping Keluarga adalah komponen yang diharapkan dalam urusan mempersiapkan remaja. Sehingga setiap remaja mempunyai perencanaan sebelum menjalani kehidupan berkeluarga.
Disamping itu ada peran lain dari Bunda Pendamping Keluarga, seperti upaya pencegahan dan penanganan stunting, mulai dari janin dalam kandungan, bayi, balita, hingga anak sebelum remaja.
Dalam kesempatan ini, Rita memberikan apresiasi kepada BKKBN Sulut dan semua Bunda Pendamping Keluarga Kabupaten/Kota yang telah bertekad dan berkomitmen untuk terus menjalankan peran dengan baik, dengan mengoptimalisasi pencegahan di Tingkat hulu, dan pendampingan terhadap keluarga berisiko stunting.
Mengakhiri sambutannya, Rita berharap kepada BKKBN dan pihak terkait untuk memaksimalkan dan menyelaraskan pelaksanaan tugas dan fungsi ke depan. Sehingga terjadi penguatan sinergitas dalam memberikan sumbangsih yang berarti bagi pembangunan bangsa dan daerah.
“Saya menyambut Baik peran Bunda Pendamping Keluarga. Saat pandemi Covid-19 terjadi, peran ibu sangat dominan,” ujar dokter Hasto memberikan dukungan.
BKKBN sendiri pernah melakukan survei dengan responden 20.600 keluarga. Pertanyaan yang diajukan: Siapa yang melakukan pekerjaan rumah, 34,3 persen didominasi ibu (istri), mengasuh anak 21,7 persen istri dominan.
Survei juga menanyakan siapa yang membeli kebutuhan rumah tangga, mengingatkan hidup sehat, mengingatkan beribadah dan berdoa? Istri ternyata mendominasi. Bagaimana dengan peran suami? Ternyata hanya mendominasi dalam hal mengingatkan untuk berfikir positif.
“Jadi, di rumah yang mengurusi dari A sampai Z adalah PKK, ibu-ibu,” terang dokter Hasto saat memberikan arahan dalam kegiatan Optimalisasi Peran Bunda Pendamping Keluarga dalam Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2024, Jumat (19/1), di Kota Manado, Sulawesi Utara.
Satu hal yang positif, lanjut dokter Hasto, di Sulawasi Utara terdapat 7.044 perempuan yang berasal dari PKK, bidan, dan penyuluh KB menjadi Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Dokter Hasto berharap Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw, bisa menggerakkan mesin kader dan mesin tim Pendamping Keluarga yang jumlahnya 7.044 orang, di tambah remaja GenRe (Generasi Berencana), serta Pembantu Pembina KB Desa (PPKBD) dan sub PPKBD yang jumlahnya lebih banyak, dalam program percepatan penurunan stunting.
“Tim BKKBN jumlahnya bisa sekitar 20 ribu di Sulawesi Utara, jika ditambah PPKBD dan sub PPKBD,” urai dokter Hasto.
Mewakili Gubernur Sulawesi Utara, dokter Hasto juga mengusulkan penambahan honor kepada kader dan TPK. “Saya usulkan kepada Wagub dan Bupati direncanakan ke depan bisa dinaikkan honornya (TPK) sesuai kemampuan daerah,” harap dokter Hasto.
Sebelumnya, Wagub Steven sempat mengingatkan para Bupati dan Walikota untuk segera membayarkan honor TPK. Wagub bahkan meminta para Bunda Pendamping Keluarga untuk mengingatkan pembayaran honor TPK yang sering terlambat.
Wagub juga menyampaikan pesan Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, kepada seluruh Bupati dan Walikota yang hadir untuk berkolaborasi dan berkoordinasi dengan baik, saling memberikan ‘feedback’ kepada pihak-pihak terkait.
Dokter Hasto juga menanggapi data-data Kabupaten dan menekankan pentingnya bicara sesuai data yang ada. “Data itu penting. Saya berterima kasih sudah terkumpul data, dari Sulut, 20,5% (stunting). Mari, kita bantu bersama. Karena ada kabupaten/kota yang masih perlu dibantu, yang masih agak tinggi.”
Dokter Hasto juga mengapresiasi beberapa kabupaten yang penurunan prevalensi stuntingnya signifikan. Seperti Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan dan Kabupaten Bolaang Mongondow.
Berdasarkan data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan menurun drastis dari 37,4 di 2021 menjadi 27,9 di 2022. Sementara Kabupaten Bolaang Mongondow mengalami penurunan hampir 5% pada 2022 lalu.
“Saya apresiasi Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, wajar jika mendapat penghargaan, yang penurunan stuntingnya cukup tinggi. Kita ingin belajar kepada Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan,” ujar dokter Hasto.
Lanjutnya, “Ini kita bicara berbasis data. Kita juga bisa menegur karena data. Kita bisa mengingatkan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur yang mengalami kenaikan. Kita keroyok bersama dan cari sebabnya apa.”
“Di sini juga bisa menjadi best practice Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yang menurun dari 22,5 ke 14,4,” tambah dokter Hasto.
Pada bagian lain sambutannya, dokter Hasto menyampaikan bahwa angka total fertility rate (TFR) di Sulut 2,1. Dinilai bagus. Namun, angka kelahiran/kehamilan remaja cukup tinggi yaitu 42,77.
Dalam kaitan ini, dokter Hasto berharap Perwakilan BKKBN Sulut agar mengecek data pernikahan di Provinsi Sulut. Karena data yang ada di aplikasi Sistem Informasi Manajemen Nikah (Simkah) Kementerian Agama hanya 6.146 yang menikah di tahun 2023 dan yang mengisi aplikasi Elsimil hanya 1.564.
“Hal ini menjadi perhatian penting, dari semua agama, karena stunting baru lahir dari pasangan yang baru nikah,” tandas dokter Hasto.
Terakhir, dokter Hasto mengajak para bunda pendamping keluarga untuk menggalakkan ASI ekslusif dan “Ngek Jel”
“Banyak ibu-ibu muda yang bilang ASI nya tidak keluar, tapi sebetulnya hanya tidak rajin menyusui. Untuk anak yang kurang dari 6 bulan tidak boleh makan selain ASI, karena itu menyusui harus sesering mungkin. Kalau dalam bahasa jawa, ngek jel. Begitu bayinya ngek (nangis), putingnya langsung jel (jejelin),” jelas dokter Hasto.
“Itulah Tuhan dengan hukum kuasaNya sudah menciptakan manusia ketika putingnya disedot bayi, maka Tuham memberikan kenikmatan hormon oksitosin dan hormon prolaktin yang mendorong payudara menproduksi ASI,” urai dokter Hasto.
Untuk itu, dokter Hasto, dokter spesialis kandungan dan kebidanan, menyatakan tidak percaya kalau ada ASI tidak kelar. “Mari, kita galakkan “NgekJel”. Begitu nangis baru diberikan air susu.”
Tuhan juga menciptakan otak manusia berkembang sampai umur 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Begitu 1000 HPK Tuhan akan “menutup” bagian atas kepala. “Jadi, ubun ubun manusia ditutup. Artiıya, volume otak sudah tidak tambah,” jelasnya.
Dokter Hasto menegaskan, “Jangan bercita-cita anak tidak stunting, anak tidak bodoh, kalau 1000 HPK tidak diberikan makanan, tidak ada protein hewani yang cukup, tidak ikan telur, pastilah tidak maskimal dan stunting.”
Di akhir sambutannya, dokter Hasto berharap informasi dan pesan yang disampaikan dalam acara ini dapat disebarluaskan kepada masyarakat.
Pada kesempatan itu, dokter Hasto juga menyaksikan pemberian penghargaan kepada Kabupaten atas capaian Penyerapan Anggaran Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) Tahun 2023.






