Portal.id – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) pada kuartal pertama (Q1) 2026 diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi di tengah tekanan geopolitik global, khususnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Sejumlah analis memperkirakan harga BTC bergerak di kisaran US$60.000 hingga US$75.000, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar dan sikap investor yang cenderung berhati-hati dalam menghadapi risiko global.
Ketegangan Iran–AS terbukti menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi volatilitas pasar kripto. Konflik tersebut mendorong lonjakan harga energi global serta meningkatkan sentimen risk-off, yang berdampak pada pelemahan harga Bitcoin dari level tertingginya. Bahkan, dalam skenario eskalasi konflik, analis memperingatkan BTC berpotensi turun hingga kisaran US$53.000 akibat aksi jual investor yang mencari aset lebih aman.
Selain tekanan geopolitik, faktor lain seperti arus keluar dana dari produk ETF kripto serta kebijakan moneter global turut memperkuat tren konsolidasi. Data menunjukkan Bitcoin sempat tertahan di area US$66.000–US$70.000 sepanjang Q1 2026, dengan indikator teknikal yang masih menunjukkan momentum lemah dan kecenderungan pasar bergerak sideways.
Perwakilan Alpha Money Group Kripto Sultra, Rian Adriansyah, menilai kondisi ini merupakan fase penyesuaian pasar pasca reli besar pada 2025. “Saat terjadi konflik seperti Iran dan Amerika Serikat, Bitcoin belum sepenuhnya berfungsi sebagai safe haven. Justru di awal krisis, aset kripto cenderung ikut tertekan sebelum akhirnya stabil kembali,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa investor institusional masih menjadi penopang utama yang menjaga harga tidak jatuh lebih dalam.
Meski demikian, Rian optimistis fase konsolidasi ini dapat menjadi fondasi bagi pergerakan harga yang lebih kuat ke depan. Ia menilai jika tensi geopolitik mereda dan likuiditas global kembali longgar, Bitcoin berpotensi kembali menguat pada kuartal berikutnya. “Q1 2026 adalah fase bertahan, bukan fase lonjakan. Investor perlu fokus pada strategi jangka panjang, bukan reaksi jangka pendek terhadap gejolak global,” pungkasnya.






