#HeadlineFokus Redaksi

Menolak Kalah, Riset Kolaborasi Tiga UIN Ungkap Tangguhnya Pemimpin Tradisional di Indonesia Timur

×

Menolak Kalah, Riset Kolaborasi Tiga UIN Ungkap Tangguhnya Pemimpin Tradisional di Indonesia Timur

Sebarkan artikel ini

Kendari, portal.id – Tangguhnya pemimpin tradisional di Indonesia Timur yang menolak kalah di tengah menguatnya sentralisasi negara terungkap dalam riset kolaborasi tiga Universitas Islam Negeri (UIN). Temuan kunci tersebut diungkap Ketua Tim Peneliti Dr. Asliah Zainal, M.A. dari UIN Kendari dalam Rilis Pers kepada portal.id.

Riset kolaborasi UIN Kendari, UIN Mataram, dan UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon ini didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui BRIN dalam skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi Gelombang VII.

Penelitian multi-tahun (2025-2027) berjudul “Menolak Kalah: Reotorisasi Elit Agama Tradisional sebagai Early Warning System Ekstremisme Agama di Indonesia Timur” dilaksanakan berdasarkan Keputusan Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN Nomor 41/II.7/HK/2025 dan Perjanjian Kerja Sama Nomor 150/IV/KS/07/2025 – 254/In.23/07/2025.

Dr. Asliah menjelaskan pada tahun pertama (2025), tim telah menyelesaikan pengumpulan data di tiga provinsi lokus: Sulawesi Tenggara, NTB, dan Maluku. Pengumpulan data dilakukan secara terbagi, yakni Tim UIN Kendari (Prof. Dr. Batmang, M.Pd., Dr. Muh Shaleh, Hasfikin, S.SS., M.Hum., Tandri Patih, M.S.I., dan Burhan, S.Si., M.Sc.) di Sultra, Tim UIN Mataram (Prof. Dr. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd. dan Prof. Atun Wardatun, M.Ag., M.A., Ph.D.) di Lombok dan Sumbawa, serta Tim UIN Ambon (Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag., M.A. dan Dr. Nurhasanah, M.Si.) di Maluku.

“Hasilnya sangat menarik, kami menemukan pola yang sama di tiga wilayah yang berbeda secara kultur. Otoritas pemimpin tradisional, baik pemuka agama maupun pemuka adat masih sangat kuat dan menjadi tumpuan utama masyarakat akar rumput,” ungkap Dr. Asliah.

Tim UIN Mataram

Di tengah negara yang semakin sentralistik, para tokoh ini memiliki agensi dan strategi untuk bertahan. Tidak hanya bertahan, terjadi penguatan (strengthening) dan ekstensifikasi (perluasan) otoritas.

Penguatan terlihat pada domain keluarga, penyelesaian konflik, serta ritual keagamaan dan adat. Sementara ekstensifikasi terlihat pada semakin meluasnya aktor pemegang otoritas yang kini tidak lagi didominasi orang tua, tetapi juga muncul dari kalangan anak muda dan perempuan.

“Temuan ini membantah anggapan bahwa Indonesia Timur adalah wilayah yang kosong dan lemah karena tidak tersentuh negara. Justru mereka kuat dan resilien karena ditopang oleh pemimpin tradisional yang menolak kalah,” tegasnya.

Capaian akademik tahun pertama signifikan. Hasil riset telah diterima (accepted) di jurnal internasional bereputasi Q1 dan akan segera terbit, serta telah dibukukan dalam bentuk buku referensi ber-ISBN.

Tim UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Memasuki tahun kedua (2026), tim telah merumuskan temuan ke dalam Modul Pelatihan dan Mentoring bagi Pemimpin Tradisional sebagai focal point Early Warning System.

Pada tahun ketiga (2027), penelitian akan ditutup dengan FGD lintas provinsi untuk validasi dan penyusunan Policy Brief yang merekomendasikan model pencegahan ekstremisme agama dengan pendekatan kultural sejalan rekomendasi BNPT.

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id