Kendari, portal.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kendari didampingi ketua DWP Kota Kendari dan Kepala Dinas P2KB Kota Kendari berkesempatan mengunjungi ibu hamil (Bumil) bernama Kimberlin (22) dan anak asuh bernama Muh. Azam (2), bertempat di Kecamatan Baruga Kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa (2/4/2024).
Selaku Orang Tua Asuh Ridwansyah Taridala mengatakan, Pemerintah Kota Kendari terus berupaya dalam melakukan percepatan penurunan prevalensi stunting di Kota Kendari. Salah satunya dengan mengeluarkan kebijakan orang tua asuh atau orang tua angkat bagi anak dan ibu hamil yang masuk kategori rawan stunting.
“Hari ini, saya berkesempatan hadir mengunjungi Bumil dan anak asuh dengan memberikan bantuan suplemen makanan tambahan kepada warga yang masuk kategori rawan stunting, setelah sebelumnya telah di identifikasi oleh dinas terkait,”ujarnya.

Ia mengatakan, bantuan yang diberikan untuk ibu hamil (Kimberlin) berupa beras, telur, ikan kaleng, mie dan susu ibu hamil. Sementara keluarga Muh. Azam berupa beras, telur, mie, ikan kaleng dan susu anak.
Bahkan pihaknya terus mendorong ibu-ibu hamil, agar rajin ke Posyandu untuk memeriksakan diri, kemudian setelah 1 bulan akan dilakukan pengukuran.
“Prinsipnya pemerintah kota berupaya secara maksimal untuk menurunkan angka stunting ini melalui kebijakan orang tua asuh. Jadi semua pejabat, tokoh-tokoh masyarakat, dan stakeholder terkait juga menjadi orang tua angkat untuk warga yang teridentifikasi rawan stunting di Kota Kendari,”katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kota Kendari Andi Dadjeng menyebutkan angka prevalensi stunting di Sultra berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 turun 2,5 persen dari 30,2 persen menjadi 27,7 persen.
“Sedangkan angka stunting di Kota Kendari pada tahun 2022 sebesar 19,5 persen,” katanya.

Andi Dadjeng yakin, dengan berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Kendari tersebut, maka target menurunkan prevalensi stunting menjadi 14 persen tahun 2024 bisa tercapai.
Untuk diketahui, Pemkot Kendari, telah meluncurkan Gerakan Orang Tua Asuh Bebas Stunting untuk menurunkan angka stunting di Kota Lulo.
Para orang tua asuh akan membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak yang mengalami stunting, kekurangan gizi kronis yang menyebabkan pertumbuhan anak terganggu sehingga badannya menjadi lebih pendek dibandingkan dengan rata-rata tinggi anak seusianya. Tidak hanya sampai disitu, tetapi orang tua asuh juga memberikan pendampingan terhadap balita beresiko stunting,
Ini adalah salah satu terobosan pemerintah kota dalam rangka menurunkan angka stunting dengan melakukan kerja-kerja bersama, gotong-royong bersama semua pihak tidak hanya unsur OPD (Organisasi Perangkat Daerah), tetapi juga melibatkan elemen lain, misalnya Baznas, Kementerian Agama, pimpinan dan anggota DPRD, dan semua lembaga lainnya termasuk unsur Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah).
Diharapkan kepada Gerakan Orang Tua Asuh Bebas Stunting tidak hanya memberikan bantuan, tapi juga memberikan edukasi dan pendampingan mengenai pola hidup sehat kepada masyarakat.
Gerakan Orang Tua Asuh Bebas Stuntin itu tidak hanya melibatkan Pemerintah Kota Kendari, tetapi juga melibatkan komunitas atau organisasi yang ingin terlibat dalam percepatan penurunan angka stunting. Dengan cara ini, diharapkan angka stunting segera menurun.
Berdasarkan data elektronik, pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat, angka stunting di Kota Kendari berjumlah 365 orang dan telah diberikan pendampingan oleh Ti, Pendamping Keluarga.
“Setelah dilakukan pendampingan ada penurunan, sekarang yang masuk prioritas pertama ini tinggal 105 orang,” sebut andi Dadjeng.(adv)






