#HeadlineFokus Redaksi

Tradisi “Tina Niwawa” Rukun Keluarga Moronene Meriahkan Pawai HUT Ke-59 Sultra

×

Tradisi “Tina Niwawa” Rukun Keluarga Moronene Meriahkan Pawai HUT Ke-59 Sultra

Sebarkan artikel ini
Barisan RKM Sultra di moment Pawai HUT ke-59 Sultra

Kendari, portal.id – Rukun Keluarga Moronene (RKM) Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk kesekian kalinya kembali berkiprah untuk memeriahkan Karnaval atau pawai yang merupakan Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-59 Sultra berlangsung di Kendari, Senin (8/5/23).

Organisasi atau Paguyuban RKM yang dinahkodai oleh Hj Sitti Saleha SE MSi dengan Sekjen RKM Masrul SAg MSi ini paling aktif dan intens mempromosikan dan memperkenalkan lembaga ini atau Moronene secara keseluruhan dalam berbagai moment, tidak hanya di HUT Sultra, tetapi juga di HUT kabupaten kota seperti di HUT Konawe Utara ataupun kegiatan pawai Etno Religi Sultra.

Berbeda dari keikutsertaan pada moment pawai sebelumnya, kali ini ada yang berbeda yang ditampilkan RKM Sultra dan menjadi pusat perjatian antusias dari warga yang memadati sepanjang rute pawai hingga di panggung Kehormatan.

Adalah atraksi budaya Tradisi “TINA NIWAWA” yang ditampilakn barisan pawai RKM Sultra dalam kesempatan itu, selain dari itu ada pula Tari Lumense yang merupakan tarian khas Moronene dari Pulau Kabaena yang pernah mengharumkan nama Sultra karena dipercaya untuk tampil di Istana Negera pada Peringanan HUT RI tahun lalu.

Tradisi Tina Niwawa

Tradisi TINA NIWAWA, merupakan salah satu ritual perkawinan adat Moronene. TINA NIWAWA sebagai bentuk penghormatan kepada calon mempelai pengantin wanita yang mendapatkan penghormatan ketika akan mengakhiri masa lajangnya. TINA NIWAWA juga bermakna wanita yang ditandu bah putri raja, dan diantar oleh kerabat sanak saudara menuju tempat acara pernikahan secara adat.

Dalam moment ini, Paguyuban Rukun Keluarga Moronene mengusung tema “Bersama Paguyuban Merajut Keragaman Budaya, Aman Sukses Membangun Sulawesi Tenggara”. Sedangkan busana yang dikenakan adalah busana tradisional Moronene dengan ciri khas Kombo untuk busana perempuan dan Ta’ali atau tutup kepala untuk busana adat laki-laki.

Dengan falsafah “Mate Yahoo Poweweu, Sawali Merukusi Dosa Owose” yang artinya mati adalah ketentuan ilahi, tetapi menggangu ketentraman dan ketertiban adalah dosa. Seperti itulah rangkian kata membentuk satu kalimat penuh makna dari akhir sinopsi singkat yang sempat dibacakan oleh MC di Panggung Kehormatan.

Tari Lumense

Jelas tersirat kebahagianan, kepuasan dan kebanggaan dari raut wajah ketua Dewan Penasihat RKM Sultra yang saat ini menjabat sebagai Sekda Sultra, Asrun Lio, yang kebetulan  didaulat sebagai penerima barisan pawai di panggung kehormatan menggantikan Gubernur Sultra.

Lambaian tangan dari Asrun Lio yang didampingi Ketua RKM Sultra, Siti Saleha di panggung kehormatan menjadi penyemangat bagi para penari Lumense yang sedang berupaya menyuguhkan hiburan terbaik bagi ratusan mata yang tertuju para gerak khas tarian itu.

Rukun Keluarga Moronene didirikan pada tahun 1949 di Makassar. Kemudian pada tahun 1965 selanjutnya RKM dibentuk di Pprovinsi Sulawesi Tenggara. RKM Sultra bersama RKM Makassar, Kolaka, Buton dan Bau-bau pada tahun 1999-2003 didukung elemen masyarakat Kabupaten Bombana berjuang untuk membentuk Kabupaten Moronene yang kini bernama Kabupaten Bombana.

Barisan RKM Sultra

Beberapa kali sudah terjadi pergantian kepemimpinan organisasi hingga RKM Sultra saat ini dibawah kepemimpinan Hj Sitti Saleha SE, M.Si selaku ketua dan Masrul Rama, S.Ag MSi selaku Sekjen RKM Sultra dengan Ketua Dewan Penasihat RKM Sultra Drs. Asrun Lio, M.Hum, Ph.D. dan Ketua Dewan Pembina RKM Sultra H. Sahrun Gaus, SP MM.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, menyatakan bahwa Suku Moronene merupakan suku yang kebanyakan mendiami wilayah Kabupaten Bombana dan Suku Moronene adalah salah satu suku besar yang terdapat di Sultra.

Para pakar antropologi berkeyakinan bahwa orang Moronene ini adalah penghuni pertama wilayah ini (Sultra). Mereka tergolong suku bangsa Proto Malayan (Melayu Tua) yang datang dari Hindia, pada zaman prasejarah atau zaman batu muda, kira-kira 2 ribu tahun sebelum Masehi.

Namun sekitar abad 18, mereka tergusur oleh semakin berkembangnya penduduk atau suku lain yang juga menghuni wilayah ini.

Istilah “Moronene” berasal dari kata “moro” yang berarti “serupa” dan “nene” yang berarti “pohon resam”. Pohon Resam adalah sejenis tanaman paku (pakis), yang banyak ditemukan di daerah ini. Kulit batangnya bisa dijadikan tali, sedangkan daunnya adalah pembungkus kue lemper.

Resam hidup subur di daerah lembah atau pinggiran sungai yang mengandung banyak air. Daerah pemukiman suku Moronene biasanya di daerah yang banyak kawasan sumber air.

Suku Moronene adalah bangsa nomaden, yang selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hingga akhirnya mereka menetap di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Kampung pemukiman suku Moronene ini tersebar di beberapa kabupaten di Sultra termasuk Kota Kendari, mereka mengungsi dan bermigrasi akibat gangguan keamanan sekitar tahun 1952 – 1953.

Dalam pergaulan sehari-hari dijumpai bahwa pada umumnya masyarakat suku Moronene itu peramah, menghormati yang tua dan suka menjalin persahabatan.

Beberapa istilah sopan santunnya antara lain Ampadea. berlaku sopan, contoh bila orang tua sedang berbicara, anak-anak tidak boleh ikut campur atau tidak ikut berbicara.

Setiap berkunjung ke Bombana, ada beberapa tempat menarik yang perlu dikunjungi. Salah satunya desa adat Hukaea Laea Kecamatan Lantari Jaya. Di desa ini, warganya masih memegang teguh adat istiadat.

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id
#HeadlineFokus Redaksi

Tradisi “Tina Niwawa” Rukun Keluarga Moronene Meriahkan Pawai HUT Ke-59 Sultra

×

Tradisi “Tina Niwawa” Rukun Keluarga Moronene Meriahkan Pawai HUT Ke-59 Sultra

Sebarkan artikel ini
Barisan RKM Sultra di moment Pawai HUT ke-59 Sultra

Kendari, portal.id – Rukun Keluarga Moronene (RKM) Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk kesekian kalinya kembali berkiprah untuk memeriahkan Karnaval atau pawai yang merupakan Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-59 Sultra berlangsung di Kendari, Senin (8/5/23).

Organisasi atau Paguyuban RKM yang dinahkodai oleh Hj Sitti Saleha SE MSi dengan Sekjen RKM Masrul SAg MSi ini paling aktif dan intens mempromosikan dan memperkenalkan lembaga ini atau Moronene secara keseluruhan dalam berbagai moment, tidak hanya di HUT Sultra, tetapi juga di HUT kabupaten kota seperti di HUT Konawe Utara ataupun kegiatan pawai Etno Religi Sultra.

Berbeda dari keikutsertaan pada moment pawai sebelumnya, kali ini ada yang berbeda yang ditampilkan RKM Sultra dan menjadi pusat perjatian antusias dari warga yang memadati sepanjang rute pawai hingga di panggung Kehormatan.

Adalah atraksi budaya Tradisi “TINA NIWAWA” yang ditampilakn barisan pawai RKM Sultra dalam kesempatan itu, selain dari itu ada pula Tari Lumense yang merupakan tarian khas Moronene dari Pulau Kabaena yang pernah mengharumkan nama Sultra karena dipercaya untuk tampil di Istana Negera pada Peringanan HUT RI tahun lalu.

Tradisi Tina Niwawa

Tradisi TINA NIWAWA, merupakan salah satu ritual perkawinan adat Moronene. TINA NIWAWA sebagai bentuk penghormatan kepada calon mempelai pengantin wanita yang mendapatkan penghormatan ketika akan mengakhiri masa lajangnya. TINA NIWAWA juga bermakna wanita yang ditandu bah putri raja, dan diantar oleh kerabat sanak saudara menuju tempat acara pernikahan secara adat.

Dalam moment ini, Paguyuban Rukun Keluarga Moronene mengusung tema “Bersama Paguyuban Merajut Keragaman Budaya, Aman Sukses Membangun Sulawesi Tenggara”. Sedangkan busana yang dikenakan adalah busana tradisional Moronene dengan ciri khas Kombo untuk busana perempuan dan Ta’ali atau tutup kepala untuk busana adat laki-laki.

Dengan falsafah “Mate Yahoo Poweweu, Sawali Merukusi Dosa Owose” yang artinya mati adalah ketentuan ilahi, tetapi menggangu ketentraman dan ketertiban adalah dosa. Seperti itulah rangkian kata membentuk satu kalimat penuh makna dari akhir sinopsi singkat yang sempat dibacakan oleh MC di Panggung Kehormatan.

Tari Lumense

Jelas tersirat kebahagianan, kepuasan dan kebanggaan dari raut wajah ketua Dewan Penasihat RKM Sultra yang saat ini menjabat sebagai Sekda Sultra, Asrun Lio, yang kebetulan  didaulat sebagai penerima barisan pawai di panggung kehormatan menggantikan Gubernur Sultra.

Lambaian tangan dari Asrun Lio yang didampingi Ketua RKM Sultra, Siti Saleha di panggung kehormatan menjadi penyemangat bagi para penari Lumense yang sedang berupaya menyuguhkan hiburan terbaik bagi ratusan mata yang tertuju para gerak khas tarian itu.

Rukun Keluarga Moronene didirikan pada tahun 1949 di Makassar. Kemudian pada tahun 1965 selanjutnya RKM dibentuk di Pprovinsi Sulawesi Tenggara. RKM Sultra bersama RKM Makassar, Kolaka, Buton dan Bau-bau pada tahun 1999-2003 didukung elemen masyarakat Kabupaten Bombana berjuang untuk membentuk Kabupaten Moronene yang kini bernama Kabupaten Bombana.

Barisan RKM Sultra

Beberapa kali sudah terjadi pergantian kepemimpinan organisasi hingga RKM Sultra saat ini dibawah kepemimpinan Hj Sitti Saleha SE, M.Si selaku ketua dan Masrul Rama, S.Ag MSi selaku Sekjen RKM Sultra dengan Ketua Dewan Penasihat RKM Sultra Drs. Asrun Lio, M.Hum, Ph.D. dan Ketua Dewan Pembina RKM Sultra H. Sahrun Gaus, SP MM.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, menyatakan bahwa Suku Moronene merupakan suku yang kebanyakan mendiami wilayah Kabupaten Bombana dan Suku Moronene adalah salah satu suku besar yang terdapat di Sultra.

Para pakar antropologi berkeyakinan bahwa orang Moronene ini adalah penghuni pertama wilayah ini (Sultra). Mereka tergolong suku bangsa Proto Malayan (Melayu Tua) yang datang dari Hindia, pada zaman prasejarah atau zaman batu muda, kira-kira 2 ribu tahun sebelum Masehi.

Namun sekitar abad 18, mereka tergusur oleh semakin berkembangnya penduduk atau suku lain yang juga menghuni wilayah ini.

Istilah “Moronene” berasal dari kata “moro” yang berarti “serupa” dan “nene” yang berarti “pohon resam”. Pohon Resam adalah sejenis tanaman paku (pakis), yang banyak ditemukan di daerah ini. Kulit batangnya bisa dijadikan tali, sedangkan daunnya adalah pembungkus kue lemper.

Resam hidup subur di daerah lembah atau pinggiran sungai yang mengandung banyak air. Daerah pemukiman suku Moronene biasanya di daerah yang banyak kawasan sumber air.

Suku Moronene adalah bangsa nomaden, yang selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hingga akhirnya mereka menetap di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Kampung pemukiman suku Moronene ini tersebar di beberapa kabupaten di Sultra termasuk Kota Kendari, mereka mengungsi dan bermigrasi akibat gangguan keamanan sekitar tahun 1952 – 1953.

Dalam pergaulan sehari-hari dijumpai bahwa pada umumnya masyarakat suku Moronene itu peramah, menghormati yang tua dan suka menjalin persahabatan.

Beberapa istilah sopan santunnya antara lain Ampadea. berlaku sopan, contoh bila orang tua sedang berbicara, anak-anak tidak boleh ikut campur atau tidak ikut berbicara.

Setiap berkunjung ke Bombana, ada beberapa tempat menarik yang perlu dikunjungi. Salah satunya desa adat Hukaea Laea Kecamatan Lantari Jaya. Di desa ini, warganya masih memegang teguh adat istiadat.

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id