KENDARI – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI merilis, nilai Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) tahun 2025 untuk Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sebesar 38,41 poin.
Capaian tersebut berarti, pemanfaatan teknologi digital di Sultra dianggap belum maksimal, namun masyarakat sudah mulai aktif menggunakan perangkat digital.
Dengan poin tertinggi IMDI 2025 diraih DKI Jakarta sebesar 56,97 dan terendah di Papua Pegunungan sebesar 31,11 poin, maka Sultra dengan 38,41 poin, boleh dinilai cukup menggembirakan.
Namun, seperti bilah pisau bermata dua peningkatan penggunaan perangkat digital di masyarakat, mestinya harus diikuti dengan peningkatan literasi digital.
Untuk itu, semua pihak perlu bahu membahu mendorong masyarakat agar lebih melek digital tapi tetap mawas, agar digitalisasi tidak malah berdampak negatif.
Gagasan inilah yang didorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam agenda safari literasi digital guna mengedukasi generasi muda untuk lebih arif menggunakan gawainya.
Hal ini salah satunya dilaksanakan dalam diskusi bertajuk ‘adab literasi media dari perspektif Islam menuju generasi emas Indonesia’ yang dilaksanakan di Aula Fisip UHO, Kamis 22 Januari 2026.
Ketua Komisi Bidang Seni dan Budaya MUI Sultra Prof Najib Husain mengungkapkan, diskusi yang digelar ini merupakan bagian terakhir dari seluruh rangkaian agenda kampanye literasi digital yang dilaksanakan MUI Sultra.
MUI, khususnya di Komisi Bidang Seni dan Budaya menilai, saat ini generasi muda kerap menggunakan gawainya tidak pada fungsi yang benar secara adab. Untuk itu, agenda ini diharapkan bisa memberikan edukasi.
“Kita memang focus untuk bagaimana memberikan literasi digital kepada para mahasiswa agar mereka dapat berinternet dengan sehat,” terang Prof Najib saat ditemui seusai diskusi.
Guru Besar di bidang Komunikasi Pembangunan ini menyebut, salah satu entri poin dalam agenda diskusi yang diikuti ratusan peserta ini, adalah agar generasi muda bisa lebih tabayyun di era digital.
“Tabayyun itu adalah salah satu adab dalam menggunakan perangkat digital, untuk senantiasa memverifikasi, memilah dengan baik berita yang ada saat ini,” tegas akademisi di Pascasarjana UHO ini.
Sementara itu, dalam materinya Ketua Dewan Pendidikan Sultra, Prof Nur Alim mengungkapkan, kecakapan digital merupakan satu dari tiga tonggak utama generasi emas Indonesia saat ini.
Untuk tonggak kedua dan ketiga nya, yakni memiliki kecerdasan secara intelektual yang baik dan memiliki moralitas dan spiritualitas yang cukup kuat.
“Untuk itu, Saat ini mereka yang tidak bisa menggunakan perangkat digital dengan baik, bisa disebut buta huruf. Untuk itu, tiga hal tersebut wajib dimiliki generasi muda,” papar dai yang juga mantan Rektor IAIN Kendari ini.
Dikesempatan yang sama, Akademisi UHO, Aswan Zanynu, yang juga pengajar Jurnalistik di Jurusan Komunikasi UHO Kendari mengungkapkan, dalam konteks pengetahuan keislaman, mestinya generasi muda bisa lebih memahami makna ‘iqra’
Tidak hanya sebagai kata dalam bahasa arab yang berarti baca, atau bacalah, tapi sebagai perintah yang mengharuskan setiap generasi muda punya literasi yang baik sehingga bisa membaca zaman.
“Jadi Iqra bukan hanya bermakna bacalah, tapi lebih dalam lagi, sebagai perintah untuk meningkatkan literasi,” jelas doktor di bidang Ilmu Komunikasi lulusan Universitas Indonesia (UI) ini.






