Kendari, portal.id – Setiap anak merupakan amanah yang harus dijaga dan memperoleh hak untuk belajar di lingkungan yang kondusif. Madrasah, sekolah, dan pesantren harus bertransformasi menjadi rumah kedua bagi peserta didik, yang mampu memberikan rasa aman serta mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.
Demikian disampaikan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, H. Mansur, S.Pd., M.A., saat peluncuran GERNASRANA (Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak) di lingkungan pendidikan Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, Rabu (22/7/2026).
Turut Hadir, Pejabat Administrator Kanwil Kemenag Sultra, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sultra Prof. Dr. H. Aris Badara, S.Pd., M.Hum, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB), Dr. Muhammad Rajulan ST, M.Si, Kepala Kemenag Kab/Kota se Sultra, sejumlah Kepala Madrasah Negeri dan Pimpinan Lembaga/Kepala Sekolah Keagamaan Kab/Kota dan ASN lingkup Kanwil Kemenag Sultra.
Peluncuran GERNASRANA yang dilakukan dalam rangka Memperingati Hari Anak Nasional ini, dikemas dalam Mata Pelangi (Masa Taaruf dan Pengenalan Lingkungan Madrasah/Sekolah Bagi Generasi Inovatif ). Langkah ini, menjadi komitmen bersama dalam mewujudkan satuan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan maupun diskriminasi.
Kakanwil menekankan pentingnya membangun pendidikan yang inklusif dengan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik, termasuk anak-anak penyandang disabilitas. Hal tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi emas Indonesia menuju tahun 2045 melalui kolaborasi berbagai pihak untuk menekan angka putus sekolah dan memperluas akses pendidikan yang berkualitas.
“Praktik perundungan (bullying) dan diskriminasi masih menjadi tantangan di dunia pendidikan. Karena itu, seluruh tenaga harus meningkatkan kepedulian dan pengawasan agar tidak ada peserta didik yang menjadi korban perundungan ataupun perlakuan diskriminatif,” terang Mansur.
Karenanya, lanjut Mansur, guru diharapkan menjadi garda terdepan dalam membangun karakter, menjaga martabat peserta didik, serta menciptakan budaya saling menghormati di lingkungan sekolah dan madrasah.
Mengakhiri sambutannya, Kakanwil mengajak seluruh insan pendidikan, pemerintah, dan para pemangku kepentingan untuk bersatu dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.
Sementara itu, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sultra Prof. Dr. H. Aris Badara, S.Pd., M.Hum menyampaikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang telah dikembangkan dalam lingkungan pendidikan. Menurutnya, berbagai program positif yang telah diterapkan dapat menjadi contoh dan dikembangkan melalui kerja sama antarlembaga.
“Kita tidak perlu bertanding, tetapi bersanding. Kita harus saling belajar dan mengambil hal-hal positif yang ada di masing-masing lembaga,” ujarnya.
Ia menilai, kolaborasi antara Kementerian Agama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan penting dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan pendidikan, termasuk persoalan kekerasan, intoleransi, serta peningkatan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik.
“Kita perlu belajar dari berbagai praktik baik yang ada. Kalau ada strategi dan metode yang bagus, tentu dapat kita contoh dan kembangkan bersama,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Menurutnya, lingkungan pendidikan yang kondusif menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proses belajar peserta didik.
Ia juga memberi sinyal untuk membuka peluang kerja sama yang lebih teknis antara Kanwil Kemenag Sultra dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, termasuk dalam hal pertukaran praktik baik, pengembangan manajemen sekolah, serta pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan.
“Kita saling belajar dan mengambil hal-hal yang berbeda dan positif dari kedua instansi ini,” pungkasnya.






