Kendari, portal.id – Lahir di Kendari tanggal 20 Maret 1987. Mulai mengenyam pendidikan formal di SD Negeri Andaroa tamat tahun 1999, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Sampara tamat 2002, dan diterima di SMA Negeri 1 Kendari dan berhasil menamatkannya di tahun 2005.
Nama lengkapnya Fatma Adriani, lebih lengkap lagi (dengan titelnya) ia bernama Fatma Adriani, S.Si., M.Si.
Dua gelarnya tersebut diperoleh di Universitas Haluoleo (UHO) Kendari, dimana S-1 ia mengambil jurusan Kimia pada fakultas mipa (tamat tahun 2009) salah satu fakultas yang bergengsi pada universitas terbesar di Sulawesi Tenggara. Bahkan UHO pernah dinobatkan sebagai universitas yang memiliki area tanah terluas di Asia Tenggara.
Hanya selang 1 tahun (2010) dari kelulusannya menyandang gelar sarjana (S-1), Fatma diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dalam jabatan (calon) Penyuluh Keluarga Berencana (PKB), dan setahun berikutnya (2011) ia meraih jabatan PKB Ahli Pertama secara utuh.
Perjalanan karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam jabatan penyuluh KB mengalami dinamika tersendiri. Kenaikan pangkat dari golongan III-a (masih CPNS) ke III-b diraih dalam waktu 3 tahun. Ujian beratnya saat merangkak ke golongan III-c karena ia harus berjuang selama 5 tahun (dari 2013 s.d. 2018) yang berarti juga di tahun 2018 ia beranjak menjadi PKB Ahli Muda. Dari golongan III-c ke III-d dan ke IV-a, ia berhasil memacunya masing-masing dalam waktu 3 tahun. Dan saat ini ia sudah pada posisi golongan IV-a dalam pangkat pembina.

Beberapa penghargaan pernah diperolehnya antara lain Satya Lancana Karya Satya 10 tahun pada tahun 2021 dan menjadi PKB Teladan dan Inovatif Tingkat Kabupaten Konawe pada tahun 2022 yang lalu.
Mengukir pengalaman cukup banyak sebagai moderator, fasilitator, mentor dan nara sumber dalam acara-acara dan kegiatan tentang program bangga kencana.
Kini, ibu 2 anak ini, telah dinobatkan sebagai Penyuluh KB terbaik Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2024 berdasarkan Surat Keputusan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tenggara nomor
116/HK.02.02/J/2024 tentang Penetapan Pemenang Lomba Apresiasi Tenaga Lini Lapangan Terbaik Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tenggara, mengalahkan sekitar 700 PKB dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tersebar di 17 kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara.
Keunggulan yang dimiliki Fatma Adriani adalah kemampuannya dalam berkomunikasi yang sangat baik, keinginan belajarnya begitu tinggi sehingga ia saat ini sudah menyandang master karena telah menyelesaikan studi Strata-2 di UHO. Selain itu ia juga memiliki kepribadian bertanggung jawab dan mampu bekerja dalam tim.
Ada kesan dan pesan yang disampaikan oleh Fatma untuk kita semua:
“Yang paling berkesan selama menjadi PKB adalah ‘seni’ mempengaruhi masyarakat dan pengambil kebijakan yang mungkin tidak bisa saya peroleh jika tidak menjadi PKB. Hal ini juga membantu saya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mudah menyesuaikan dengan lingkungan baru dan memiliki empati terhadap orang lain. Pesan untuk rekan-rekan PKB: bekerja ikhlas seberat apapun tantangan yang dihadapi. Meskipun, Pekerjaanmu rumit Jalan yang kau hadapi berbukit Kehidupanmu sulit Gajimu satu digit Insya Allah bernilai Pahala setinggi langit Aamiin…”
Kesan dan pesan yang sangat luar biasa. Selain itu Fatma yang dikenal energik ini memiliki harapan terhadap program Bangga Kencana. Menurutjya saat ini Program Bangga Kencana sudah mengalami “revolusi” yang sangat terasa sampai di tingkat desa/kelurahan, mulai dari Rebranding yang lebih mudah menyentuh generasi zaman now, pilihan jenis alat kontrasepsi yang baru dan beragam, pelaporan yang sebelumnya manual menjadi serba aplikasi, masyarakat semakin dekat dan mudah dalam mengakses informasi mengenai Program Bangga Kencana (seperti klikkb, Silili BKKBN) dan masih banyak perubahan lain.
Harapan saya semoga Program Bangga Kencana terus bisa berkembang menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat saat ini. Pilihan metode kontrasepsi pria tidak hanya MOP dan kondom saja tetapi ada pilihan obat atau alat kontrasepsi lain.
“Indonesia punya potensi sumber daya alam yang tinggi, beberapa tanaman telah dimanfaatkan secara etnobotani untuk mencegah terjadinya kehamilan. Semoga di masa depan BKKBN juga bisa berperan dalam pengembangan obat kontrasepsi baru,” komennya penuh harapan dan antusias.

Selain itu, kaitannya dengan banyaknya kasus stunting saat ini, Fatma berpendapat: “Agar Indonesia atau Sulawesi Tenggara bisa terbebas dari stunting menurut saya pencegahan stunting harus dimulai dari rumah, dari keluarga. Keluarga yang memiliki pengetahuan tentang Stunting, bagaimana cara menghindarinya, akan memiliki anak-anak bebas stunting. Edukasi besar-besaran harus dilakukan tidak hanya kepada kepada keluarga sasaran, semua komponen di tingkat desa/kelurahan harus terlibat: PKK, bidan desa, kader KB, kader posyandu, petugas gizi, majelis taklim, karang taruna, aparat desa/kelurahan, Penyuluh KB, Penyuluh Pertanian, Penyuluh Peternakan, Penyuluh Agama.”
Ia juga menguatkan pendapatnya bahwa agar terhindar dari stunting setiap keluarga dari masyarakat hendaknya memiliki pengasuhan yang baik, Kesehatan ibu hamil, pengetahuan mengenai makanan sehat dan sanitasi yang baik harus menjadi pengetahuan dasar yang dimiliki masyarakat. Hal ini tidak akan berhasil jika hanya 1 dan 2 komponen yang bergerak. Perlu ada sinergi dari semua komponen tersebut, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan dan kelurahan.
Penulis: Mustakim






