#HeadlinePolitik & PemerintahanSulawesi Tenggara

Fatmawati Trophy Regional 13 Digelar di Kendari, 3 Desainer Lolos ke Tingkat Nasional

×

Fatmawati Trophy Regional 13 Digelar di Kendari, 3 Desainer Lolos ke Tingkat Nasional

Sebarkan artikel ini

Kendari, portal.id – Kompetisi Desain Kebaya dan Kerudung Fatmawati Trophy 2026 Regional 13 yang melibatkan Sulawesi Tenggara (Sultra), Sulawesi Barat (Sulbar), dan Sulawesi Selatan (Sulsel) resmi digelar di salah satu hotel di Kota Kendari, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan yang diinisiasi DPD PDI Perjuangan Sulawesi Tenggara tersebut dibuka langsung oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perempuan dan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Sebanyak enam desainer dari tiga provinsi ambil bagian dalam kompetisi tersebut dengan menampilkan total 15 busana. Karya yang dipamerkan tidak hanya mengedepankan kreativitas dalam desain kebaya dan kerudung, tetapi juga mengangkat unsur budaya daerah serta nilai-nilai perjuangan perempuan Indonesia.

Enam desainer yang tampil yakni Amirullah dari Sultra dengan tiga busana, Erika Tansil dari Sulsel dengan tiga busana, dan Trinop Tijasari dari Sultra dengan dua busana.

Ketiganya berhasil meraih hasil terbaik dan dinyatakan lolos untuk mewakili Regional 13 pada ajang Fatmawati Trophy 2026 tingkat nasional di Jakarta.

Sementara itu, tiga desainer lainnya, yakni Nur Nazila dari Sulbar dengan dua busana, Suriyani dari Sultra dengan tiga busana, serta Nurul Dwi Rezki dari Sulbar dengan dua busana, belum berhasil melaju ke tingkat nasional.

Dalam sambutannya, Bintang Darmawati mengapresiasi seluruh peserta dan panitia yang telah menyukseskan pelaksanaan Fatmawati Trophy Regional 13.

Menurutnya, ajang tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar kompetisi desain busana. Fatmawati Trophy, kata dia, merupakan bagian dari gerakan kebudayaan nasional untuk membangun kesadaran sejarah sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi perempuan dalam narasi perjalanan bangsa.

“Fatmawati Trophy ini tidak sekadar penghargaan. Ini adalah upaya membangun monumen kesadaran sejarah, ruang refleksi ideologis sekaligus gerakan kebudayaan nasional,” kata Bintang.

Ia mengatakan, sosok Fatmawati menjadi inspirasi utama dalam kegiatan tersebut karena keteguhan moral, keberanian, kesederhanaan, dan semangat perjuangannya.

Bintang juga menegaskan bahwa Fatmawati bukan hanya milik kelompok atau partai tertentu, melainkan merupakan bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia.

“Walaupun ini diinisiasi oleh PDI Perjuangan, Ibu Fatmawati tidak hanya milik PDI Perjuangan. Ibu Fatmawati adalah milik bangsa dan negara,” tegasnya.

Ia berharap Fatmawati Trophy dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk terus berinovasi dan berkreativitas. Selain itu, ajang tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali nilai perjuangan serta kebudayaan Indonesia melalui karya-karya kreatif.

Tiga desainer terbaik dari Regional 13 selanjutnya akan membawa karya mereka ke tingkat nasional. Puncak Fatmawati Trophy 2026 tingkat nasional dijadwalkan berlangsung pada 15 November 2026 di Jakarta.

Bintang juga berpesan kepada para peserta agar tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya tujuan dalam mengikuti kompetisi.

“Juara bukanlah tujuan akhir. Bagaimana kita bisa mewarisi api perjuangan Ibu Fatmawati jauh lebih penting. Perempuan bukan pelengkap sejarah, tetapi perempuan adalah arsitek peradaban,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Sultra, Lukman Abunawas, mengatakan kompetisi tersebut menjadi momentum penting untuk menjaga kebaya sebagai salah satu identitas budaya Indonesia.

Menurut Lukman, kebaya dan kerudung tidak hanya berkaitan dengan perkembangan fesyen, tetapi juga merupakan bagian dari warisan budaya yang harus terus dirawat, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada generasi muda.

Ia juga mendorong para desainer untuk mengangkat motif serta kain khas daerah, termasuk tenun Sulawesi Tenggara. Dengan demikian, kekayaan budaya lokal dapat semakin dikenal melalui industri kreatif dan dunia fesyen.

“Budaya dan simbol daerah maupun nasional harus tetap kita pelihara. Kita harus terus menjaga warisan budaya bangsa,” ujarnya.

Lukman berharap karya para peserta Regional 13 dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan ke tingkat nasional.

Melalui ajang tersebut, ia berharap kebaya dan kain tradisional daerah tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu berkembang mengikuti kreativitas generasi muda tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id