Kendari, portal.id – Pertemuan Mini Lokakarya Percepatan Penurunan Stunting di Kecamatan Nambo, Kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra) dilaksanakan di Kantor Unit Pelaksanaan Teknik Dinas Keluarga Berencana (UPTD-KB) Kecamatan Nambo pada Senin (8/9/2025).
Dalam pertemuan Minlok tersebut, Kepala UPTD-KB Kecamatan Nambo Erlina Sinegar mengungkapkan tercatat ada tujuh anak penderita stunting di wilayah Kecamatan Nambo.
“Ketujuh anak penderita stunting sudah dilakukan pendampingan, dengan cara pemberian makanan tambahan,”ujarnya.
Upaya yang dilakukan dalam mencegah dan menurunkan angka stunting di Kecamatan Nambo, pihaknya sudah melakukan edukasi kepada masyarakat, dan mencari orang tua asuh bagi anak penderita stunting.
“Kami juga melakukan pendataan kepada masyarakat untuk pemberian makanan bergizi gratis (MBG) dari Badan Gizi Nasional, serta berkoordinasi dengan pihak puskesmas, kelurahan dan RT/RW dalam rangka pemberian makan tambahan kepada keluarga yang berisiko stunting,”tambah dia.
Diharapkan, dengan kerja sama semua pihak masalah stunting di Kota Kendari khususnya di Kecamatan Nambo dapat diatasi di tahun ini, menjadi zero stunting.

Kegiatan Minlok Tingkat Kecamatan Nambo itu menghadiri dua Narasumber dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk-KB) Kota Kendari. Peserta kegiatan yang hadir Kepala Puskesmas, Lurah se-Kecamatan Nambo, KUA, Kader TPK dan para tamu undangan lainnya.
Pemateri pertama, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Penyuluh dan Penggerakan Disdalduk-KB Kendari Abdul Haris Sahido membawakan materi Pelaksanaan Program Gerakan Orang Tua Asuh Atasi Stunting (Genting).
Dia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari terus menguatkan komitmennya dalam upaya menekan dan memutus rantai stunting di daerah itu.
“Salah satu cara program yang dilakukan yakni menggencarkan program Gerakan Orang Tua Asuh Atasi Stunting (Genting),”ujarnya.
Dalam menekan angka stunting, Pemkot Kendari tidak hanya menyasar angka atau persentase stunting, tetapi terlebih utama adalah menyentuh akar persoalan gizi, edukasi, hingga sanitasi keluarga.
“Masalah stunting kini tak bisa lagi dipandang semata sebagai isu kesehatan. Ia adalah ancaman multidimensi, menyentuh kualitas SDM, masa depan generasi, hingga daya saing bangsa. Pemerintah Kota Kendari, melalui program-program strategis, telah menempatkan isu stunting sebagai prioritas utama sepanjang tahun 2025,”ucapnya.
Kata Haris, program Genting mulai menunjukkan hasil positif.
“Angka stunting di Kota Kendari perlahan menurun, meski belum berada di zona aman. Karena itu, pihaknya mengingatkan semua pihak agar tidak lengah dan terus menjaga semangat gotong royong lintas sektor,”ujarnya.
Adapun keluarga sasaran yang berisiko stunting berdasarkan pendataan keluarga tahun 2024 di Kota Kendari sebanyak 46.259, yang teridentifikasi 10.724 KRS. Sementara target yang diberikan oleh Kemendukbangga/BKKB sebanyak 1.018 keluarga yang teridentifikasi memiliki risiko stunting.
“Identifikasi dilakukan berdasarkan enam indikator utama, termasuk akses terhadap air bersih, sanitasi layak, dan kondisi kehamilan berisiko seperti “4 terlalu” (terlalu muda/tua, terlalu sering, dan terlalu banyak anak),”katanya.

Sambungnya, setiap keluarga ini tidak hanya didampingi, tapi dijangkau secara holistik oleh berbagai sektor, kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi. Perjuangan ini belum selesai.
“Target kita adalah menekan angka stunting hingga 14 persen secara nasional. Tanpa sinergi semua pihak, angka hanyalah angka. Tetapi jika kita bergerak bersama, itu akan jadi perubahan nyata,” tegasnya.
Adapun, sasaran program Genting di Kecamatan Nambo sebanyak 289 KRS (kelurga resiko stunting), untuk target dari Kemendukbangga sebanyak 180 KRS terverifikasi by name by address.
Pemateri kedua, Muspidah Ahmad Matto membawakan materi tentang peran keluarga berencana dalam upaya pencegahan stunting di Kota Kendari.
Output Mini Lokakarya tingkat kecamatan yaitu tersedianya laporan hasil evaluasi pelaksanaan pendampingan Keluarga dan pembinaan Tim Pendamping Keluarga serta laporan kondisi pelaksanaan pendampingan Keluarga dan program percepatan penurunan stunting di seluruh kelurahan dalam satu wilayah Kecamatan.






