Kendari, portal.id – Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menegaskan pentingnya penguatan peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) serta sinergi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dalam mempercepat penanganan, pencegahan, dan penurunan stunting di Kota Kendari.
Penegasan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Advokasi dan Promosi Bangga Kencana oleh Pokja kepada Stakeholder terkait Gerakan Orang Tua Asuh serta Penguatan Tim Pendamping Keluarga Tingkat Kota Kendari Tahun 2026 di Aula Samaturu Balai Kota Kendari, Rabu (26/8/2026).
Dalam sambutannya, Siska menekankan bahwa TPK merupakan ujung tombak pemerintah dalam mendampingi keluarga, khususnya keluarga yang memiliki faktor risiko melahirkan anak stunting.
“Stunting ini bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi merupakan indikator kekurangan gizi kronis yang dapat berdampak terhadap kualitas kehidupan seseorang, baik dari aspek kesehatan, pendidikan maupun produktivitas di masa dewasa,” ujar Siska.
Menurutnya, stunting menjadi ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia dan daya saing daerah. Karena itu, penanganannya tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan atau Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh OPD dan pemangku kepentingan.
Angka Stunting Terus Menurun
Siska mengungkapkan, prevalensi stunting di Kota Kendari berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencapai 25,7 persen pada 2023 dan menurun menjadi 24,4 persen pada 2024 berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Sementara berdasarkan data e-PPGBM, angka stunting pada Desember 2025 tercatat sekitar 1,73 persen.
Selain itu, intervensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi keluarga berisiko stunting telah menjangkau 12.720 sasaran atau sekitar 86 persen dari target 14.797 penerima manfaat.
Hingga Agustus 2026, pendampingan keluarga yang dilakukan TPK melalui aplikasi Elsimil telah mencapai 3.349 sasaran, terdiri atas 374 pasangan calon pengantin, 823 ibu hamil, 308 ibu pasca persalinan, serta 1.844 keluarga dengan bayi dan balita.
Menurut Siska, capaian tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara konsisten, terukur, dan sedekat mungkin dengan keluarga.
Penanganan Harus Terintegrasi
Wali Kota menegaskan bahwa stunting dipengaruhi banyak faktor sehingga memerlukan penanganan yang menyeluruh.
“Bicara stunting bukan hanya KB, bukan hanya Dalduk, tetapi semua. Kita harus memperhatikan rumahnya, bagaimana keluarganya, bagaimana dia tidur, bagaimana dapurnya, bagaimana jambannya, bagaimana selokan di sampingnya,” tegasnya.
Ia menyebut sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pola asuh, pemenuhan gizi, kondisi lingkungan, hingga kesiapan calon orang tua sebelum kehamilan sebagai faktor penting yang harus menjadi perhatian.
Menurutnya, keluarga yang masuk kategori berisiko harus mendapatkan pendampingan sejak dini agar tidak berkembang menjadi kasus stunting.
TPK Lebih dari Sekadar Pendata
Siska mengingatkan seluruh anggota TPK agar tidak memandang tugas mereka hanya sebatas melakukan pendataan.
Menurutnya, TPK memiliki peran strategis sebagai pendamping, edukator, fasilitator pelayanan, pemantau kondisi keluarga, sekaligus penghubung antara pemerintah dan masyarakat.
TPK bertugas mendampingi calon pengantin, pasangan usia subur, ibu hamil, ibu pasca persalinan, hingga keluarga yang memiliki anak usia 0–59 bulan. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab mengidentifikasi keluarga berisiko stunting, memberikan edukasi mengenai kesehatan, gizi, pola asuh, sanitasi dan perilaku hidup sehat, membantu akses pelayanan kesehatan, serta melakukan pemantauan dan pelaporan hasil pendampingan.
“TPK hadir bukan hanya sebagai pendamping keluarga, tetapi juga sebagai pemberi edukasi, penghubung, pelayan, dan sahabat bagi keluarga,” katanya.
Libatkan 12 OPD Menuju Zero Stunting
Dalam kesempatan itu, Siska kembali menekankan pentingnya keterlibatan seluruh OPD dalam upaya percepatan penurunan stunting. Pemerintah Kota Kendari telah membentuk Satgas Stunting yang melibatkan berbagai OPD untuk memastikan penanganan dilakukan secara terpadu.
Ia mengungkapkan, jumlah anak yang mengalami stunting terus menurun dan saat ini masih terdapat sekitar 462 anak yang membutuhkan intervensi agar dapat keluar dari kondisi tersebut. Di sisi lain, terdapat sekitar 10 ribu keluarga yang memiliki faktor risiko sehingga memerlukan perhatian serius.
“Target kita adalah bagaimana yang sudah terkena stunting kita turunkan menjadi zero, menjadi nol. Lalu yang 10 ribu ini kita harus tahu faktor risikonya apa, sehingga secara sistematis kita cegah jangan sampai menjadi penderita stunting,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Siska mengajak seluruh TPK, tenaga kesehatan, kader, OPD, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi demi mewujudkan Kendari bebas stunting.
“Mari kita bekerja bersama, bergerak bersama dan memastikan tidak ada keluarga yang menghadapi persoalan ini. Target kita adalah zero stunting di Kota Kendari,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Kendari Sudirman, Sekretaris Daerah Kota Kendari, jajaran Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, para kepala UPTD-KB, penyuluh KB, kader, Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta berbagai mitra dan stakeholder.






