Kendari, portal.id – Unit Pelaksanaan Teknik Dinas Keluarga Berencana (UPTD-KB) Kecamatan Kambu-Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk-KB) Kota Kendari menggelar Mini Lokakarya (Minlok) Stunting Tingkat Kecamatan tahun 2025, berlangsung di Kantor Camat Kambu. Rabu (3/9/2025). Kegiatan tersebut dibuka langsung Camat Kambu Aswan.
Acara ini dihadiri Kepala Puskesmas, Lurah se-Kecamatan Kambu, RT/RW, Kader PKK serta para tamu undangan lainnya. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Dinas Pengendalaian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk-KB) Kota Kendari.
Camat Kambu Aswan dalam sambutannya menjelaskan pentingnya sinergi antar sektor dalam menyukseskan program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana).
“Melalui Minlok ini, kami berharap ada kesamaan persepsi dan penguatan komitmen bersama dalam mendukung program-program pemerintah, khususnya dalam pencegahan stunting, “ujarnya.
Melalui kegiatan ini, dia berharap kolaborasi antar instansi dan stakeholder di Kecamatan Kambu dapat semakin solid dalam mendorong program pemerintah khususnya pencegahan dan penanganan stunting di daerah tersebut.

Kepada UPTD-KB Kecamatan Kambu Hj. Surianti mengatakan, kegiatan Minlok ini membahas penurunan stunting dan pelaksanaan gerakan orang tua asuh atasi stunting (Genting), dimana saat ini gencar-gencarnya di programkan oleh BKKBN.
“Langkah-langkah yang sudah dilakukan UPTD KB Kecamatan Kambu dalam menurunkan angka stunting yaitu, kami sudah melakukan edukasi kepada masyarakat, dan mencari orang tua asuh, kami juga sudah melakukan pendataan kepada masyarakat untuk pemberian makanan bergizi gratis (MBG) dari Badan Gizi Nasional, dan kami juga berkoordinasi dengan pihak puskesmas dalam rangka pemberian makan tambahan kepada keluarga yang berisiko stunting,”jelasnya.
Selain itu, sambung dia, UPTD KB Kecamatan Kambu juga memberikan bantuan makan kepada anak berisiko stunting di Kelurahan Lalolara sebanyak dua orang.
Saat ini, jumlah keluarga berisiko stunting di Kecamatan Kambu sebanyak 26 orang.
“Saya berharap kedepannya, 26 orang berisiko stunting ini bisa di intervensi dan stunting di Kecamatan Kambu menjadi zero,”harapnya.
Sementara itu, Kepada Disdalduk-KB Kota Kendari melalui Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Penyuluh dan Penggerakan Disdalduk-KB Kendari Abdul Haris Sahido yang juga sebagai narasumber mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari terus menguatkan komitmennya dalam upaya menekan dan memutus rantai stunting di daerah itu.
“Salah satu cara program yang dilakukan yakni menggencarkan program Gerakan Orang Tua Asuh Atasi Stunting (Genting),”ujarnya.
Dalam menekan angka stunting, Pemkot Kendari tidak hanya menyasar angka atau persentase stunting, tetapi terlebih utama adalah menyentuh akar persoalan gizi, edukasi, hingga sanitasi keluarga.
“Masalah stunting kini tak bisa lagi dipandang semata sebagai isu kesehatan. Ia adalah ancaman multidimensi, menyentuh kualitas SDM, masa depan generasi, hingga daya saing bangsa. Pemerintah Kota Kendari, melalui program-program strategis, telah menempatkan isu stunting sebagai prioritas utama sepanjang tahun 2025,”ucapnya.
Kata Haris, program Genting mulai menunjukkan hasil positif.
“Angka stunting di Kota Kendari perlahan menurun, meski belum berada di zona aman. Karena itu, pihaknya mengingatkan semua pihak agar tidak lengah dan terus menjaga semangat gotong royong lintas sektor,”ujarnya.
Saat ini terdapat 1.018 keluarga yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi stunting. Identifikasi dilakukan berdasarkan enam indikator utama, termasuk akses terhadap air bersih, sanitasi layak, dan kondisi kehamilan berisiko seperti “4 terlalu” (terlalu muda/tua, terlalu sering, dan terlalu banyak anak).
“Setiap keluarga ini tidak hanya didampingi, tapi dijangkau secara holistik oleh berbagai sektor, kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi. Perjuangan ini belum selesai. Target kita adalah menekan angka stunting hingga 14 persen secara nasional. Tanpa sinergi semua pihak, angka hanyalah angka. Tetapi jika kita bergerak bersama, itu akan jadi perubahan nyata,” tegasnya.
Dengan pendekatan whole of government dan whole of society, Kota Kendari kini menatap 2025 dengan langkah yang lebih pasti. Bukan hanya mengejar target nasional, tetapi menanam pondasi bagi generasi Kendari yang tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Ia menjelaskan, stunting tidak hanya terlihat dari tinggi badan anak yang pendek. Lebih dari itu, stunting adalah gambaran ketimpangan gizi kronis yang berdampak panjang pada pendidikan, kecerdasan, hingga produktivitas anak di masa mendatang.
“Program Genting mengajak masyarakat yang mampu secara ekonomi untuk menjadi orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting. Tidak hanya dalam bentuk bantuan gizi, tetapi juga edukasi pola asuh, pemantauan kehamilan, dan dukungan untuk menjaga jarak kelahiran,” katanya.
Berdasarkan data terkini dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan, angka stunting di Kota Kendari masih berada di angka 25,7 persen. Sementara itu, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat angka yang lebih rendah, yakni 20 persen. Meski terjadi penurunan, capaian itu belum mencapai target nasional 2025, yakni 18,8 persen.
Menanggapi hal tersebut kata Haris, Pemerintah Kota Kendari menyiapkan strategi terpadu yang menyentuh berbagai lini kehidupan masyarakat. Mulai dari pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita, peningkatan kualitas layanan posyandu dan puskesmas, hingga penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak.
Namun, intervensi saja tidak cukup, karena yang terpenting lagi adalah kolaborasi lintas sektor dan evaluasi menyeluruh terhadap program setiap OPD adalah kunci.
Haris menekankan pentingnya pemanfaatan data keluarga berisiko stunting secara presisi dan menyeluruh, agar setiap langkah benar-benar menyasar kebutuhan di lapangan.






