#Advetorial#HeadlineFokus RedaksiMetro KendariPolitik & Pemerintahan

Sawah di Kendari Mampu Produksi 6 Ton Per Hektar

×

Sawah di Kendari Mampu Produksi 6 Ton Per Hektar

Sebarkan artikel ini

Kendari, portal.id – Lokasi Persawahan di Kota Kendari sekitar 355 hektar yang tersebar di dua kecamatan dan setiap hektar sawah mampu menghasilkan hingga 6 ton per hektarnya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari Makmur melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kota Kendari Ratriyansyah Halip mengatakan sejauh ini hasil produksi sawah yang ada di Kecamatan Baruga (Amohalo) seluas 320 hektar dan Kecamatan Mandonga (Labibia) seluas 35 hektar masih tergolong bagus.

“Hampir semua yang melakukan panen hasilnya semua bagus, setiap sawah yang di panen mampu menghasilkan sampai 5-6 ton/hektar dari jumlah sawah 355 hektar,”tuturnya.

Dalam satu kali panen untuk sawah di Kota Kendari mampu menghasilkan kurang lebih 2.130 ton. Dan padi Kota Kendari hanya bisa dipanen dua kali setahun.

“Sawah di Kota Kendari hanya bisa panen dua kali setahun. Kita mau kejar tiga kali setahun panennya, tapi sawah di Kota Kendari ini terkendala air. Musim hujan tergenang dan tunggu air surut baru lahannya bisa digarap. Kalau kemarau sulit air,” ungkap

Ia mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah perbaikan sistem irigasi dan pemberian bantuan alat produksi pertanian atau Alsintan.

“Yang menjadi kendala petani untuk melakukan penanaman tiga kali setahun karena tidak didukung dengan sistem irigasi yang memadai, sehingga petani hanya bisa melakukan penanaman dua kali dan sebagian ,”katanya.

Menurut dia, kalau sistem drainase baik dan mampu mengatur distribusi air ke semua sawah, maka kita bisa panen tiga kali dalam setahun sesuai target yang diberikan pemerintah.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kota Kendari Ratriyansyah Halip

“Area pertanian padi di Kendari rata-rata hanya bisa panen dua kali dalam satu tahun, tetapi masih bisa ditingkatkan menjadi tiga kali dalam setahun jika didukung sistem irigasi yang memadai dan alat pertanian lengkap,” katanya.

Masalahnya kata dia, karena keterbatasan anggaran pemerintah daerah sehingga pembenahan drainase tidak bisa dilakukan sekaligus berdasarkan kebutuhan, namun dilakukan pembenahan secara bertahap.

“Sehingga kita juga sangat mengharapkan dukungan dana dari pusat melalui dana alokasi khusus (DAK) pengembangan irigasi dalam upaya meningkatkan produksi pangan menuju terwujudnya swasembada pangan nasional,” ujarnya.

Dia mengatakan, Dinas Pertanian Kota Kendari bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah membangun rumah burung hantu (rubuha) untuk mengusir hama tikus di areal persawahan di Amohalo.

Pemanfaatan rubuha merupakan strategi pengendalian hayati yang ramah lingkungan dan efektif untuk mengurangi populasi tikus yang selama ini menjadi ancaman utama terhadap hasil panen petani.

“Kami telah membangun satu rubuha berkolaborasi bersama BRIN dengan melibatkan kelompok tani di kawasan persawahan Amohalo di Kelurahan Baruga, dan semoga ini bisa menjadi contoh bagi kelompok tani yang lain” katanya.

Rubuha merupakan sarang buatan untuk menarik burung hantu jenis Tyto alba agar bersarang dan berkembang biak di sekitar lahan pertanian Makmur menyebutkan bahwa metode rubuha ini diharapkan bisa mengendalikan hama tikus sehingga produksi padi terjaga dengan baik, karena burung hantu ini adalah predator alami tikus sawah yang dapat memangsa 5-10 ekor tikus per malam.

“Dengan pendekatan ini, petani tidak hanya mendapatkan hasil panen yang lebih baik, tetapi juga turut menjaga keseimbangan ekosistem pertanian yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa pengendalian hayati dengan metode rubuha tersebut juga dinilai hemat biaya karena bisa dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan di sekitar tempat petani.

“Rumah burung hantu dibuat dari papan kayu ukuran standar, dipasang pada tiang atau pohon setinggi 4–6 meter,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa berdasarkan data kawasan, persawahan Amohalo memiliki potensi pertanian yang cukup luas dan produktif, namun sering mengalami serangan hama tikus yang merusak tanaman padi, terutama saat fase generatif (pembentukan malai).

“Kita berharap dengan adanya rumah burung hantu ini dapat meningkatkan hasil panen bagi petani khususnya di persawahan Amohalo,”harapnya.

Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan ikuti WhatsApp channel portal.id