Oleh : Muh. Tanzil Aziz (Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana IPDN)
Dalam beberapa waktu luang, saya seringkali berolahraga di Kawasan Ex MTQ Kota Kendari baik itu di pagi maupun sore hari, walaupun awalnya terkesan fomo namun karena fasilitas pedestrian yang sangat mendukung, terlebih lagi banyak orang seperti saya yang juga melakukan hal yang sama dan uniknya banyak dari mereka ternyata adalah kenalan maka olahraga sekaligus silaturahmi menjadi sebuah kegiatan menarik. Sampai 3 hari terakhir ini di salah satu titik kawasan Ex MTQ saya melihat ada penampakan baru, sebuah box besar yang bertuliskan Smart Water Station. Sebuah terobosan baru pengisian air minum otomatis dengan memanfaatkan teknologi yang pada akhirnya sangat membantu orang-orang seperti saya yang melakukan aktivitas olahraga di sana. Setelah kepo sana-sini akhirnya saya tahu bahwa Smart Water Station ini adalah hasil kolaborasi antara Bank Sultra dan PDAM Kota Kendari, tanpa pikir panjang saya langsung teringat pimpinan dua perusahaan ini adalah anak-anak muda yang punya kualitas inovasi dan kompetensi yang sangat luar biasa. Smart Water Station ini seakan jadi bukti dan cara brilian mereka untuk menarik kepercayaan masyarakat pada perusahaan yang sama-sama mereka pimpin.
Samuel Ullman salah seorang pebisnis dan aktivis humanitarian terkemuka di akhir abad 19 berkata “Youth is not a time of life; it is a state of mind.” (Masa muda bukanlah waktu dalam hidup, melainkan keadaan pikiran), Quotes ini menggambarkan bahwa kedewasaan pola pikir dan tindakanlah yang menjadi indikator dalam menilai kompetensi seseorang bukan hanya karena masalah umur.
Andri Permana yang saat ini menjabat sebagai Direktur Bank Sultra adalah salah satu bukti bagaimana anak muda mampu bertansformasi secara luar biasa dalam urusan karakter kepemimpinan khususnya di sektor perbankan. Memulai karir dari jenjang terbawah dengan status fresh graduate pada perusahaan perbankan yang dikenal memiliki budaya kerja yang tinggi, ditunjuk memimpin tim kerja dengan target terukur sampai akhirnya dipercayakan menjadi pimpinan cabang Bank di beberapa daerah dan Head Area Regional yang pastinya ditentukan ditengah persaingan karir yang sangat ketat adalah bagaimana sosok Andri Permana ditempa sehingga kompetensi dan etos kerja sehingga mampu menghasilkan banyak prestasi. Inilah bukti bagaimana jika anak muda mampu memahami dan menempatkan dirinya secara siap dan matang ditengah kungkungan pola pikir dan budaya bahwa hanya yang mereka yang tualah yang kompeten.
Di era Demokrasi dan kepemimpinan kontemporer, istilah anak muda “take over” menjadi pemandangan yang unik, ajaibnya justru banyak kasus kepemimpinan di tangan anak muda di era disrupsi ini yang memberikan dampak positif dan seakan mampu merekonstruksi kegagalan yang diwariskan oleh pemimpin sebelumnya. Contoh Ibrahim Traoré di Burkina Faso dan Daniel Noboa di Ekuador yang memimpin (presiden) dibawah umur 36 Tahun, Gabriel Attal Perdana Menteri Prancis di Umur 34 Tahun, atau contoh yang paling dekat adalah Wakil Presiden kita yang juga secara umur juga masih sangat muda. Dalam konteks lokal Walikota dan Wakil Walikota Kendari, Bupati Konawe, Bupati Buton, Bupati Konawe Utara, Bupati dan Wakil Bupati Konawe Kepulauan, Bupati Muna Barat, Wakil Bupati Konawe Selatan dan Wakil Bupati Buton Selatan, adalah contoh nyata bagaimana anak muda berani muncul dan “take over” kepemimpinan.
Fenomena ini menjadi lautan tak terbendung bahwa memberikan peran dan tanggung jawab kepada anak-anak muda justru adalah keniscayaan. Kembali ke judul diskursus ini bahwa ada tokoh politik kita yang meragukan kepemimpinan Bank Sultra yang dinahkodai Andri Permana karena dianggap tidak memiliki kapasitas, pengalaman dan rekam jejak kuat di dunia perbankan sepertinya terlalu subjektif disatu sisi dan terkesan terlalu dini disisi lainnya.
Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, Andri Permana bukanlah pemimpin karbitan yang kemudian tiba-tiba ibarat durian runtuh jadi Direktur Bank Sultra. Terlepas dari penunjukan Direktur Bank Sultra adalah hak prerogratif Gubernur namun di sisi lain Andri Permana adalah hasil Personal Growth yang kemudian terseleksidan muncul. Justru tekanan besarnya ada pada sosok Gubernur yang berhasil secara jeli melihat potensi Andri Permana dan kemudian memanfaatkannya dalam bagian dari kepemimpinannya selaku kepala daerah. Hal yang tentunya tidak semua orang berani untuk melakukannya, dan untuk saya pribadi dua jempol saya terangkat untuk keputusan berani dan brilian ini.
Disisi yang lain adalah terlalu prematur untuk menilai kompetensi seseorang saat kepemimpinan baru saja dimulai. Dalam teori kepemimpinan ada istilah kepemimpinan transformasional, bahwa mejadi pemimpin adalah menciptakan tim solid dimana pemimpin memberikan motivasi sehingga tim yang dibentuk mencapai titik kinerja tertinggi melalui visi inspiratif dan pengembangan jangka panjang. Titik poin pada pengembagan jangka panjang inilah yang menjadi dasar tidak layak rasanya jika memberikan penilaian bahwa kepemimpinan tidak kompeten di umur kepemimpinan yang boleh dikata baru seumur jagung. Tidak bisa kita pungkiri bahwa Bank Sultra adalah salah satu bank lokal terbesar yang ada di Sulawesi Tenggara maka tantangan terbesar yang justru dihadapi oleh Direktur Bank Sultra adalah bagaimana membangun tim solid dan terpercaya yang ada disekitarnya guna memastikan bahwa visi membawa Bank Sultra semakin kokoh dan tangguh di era modern ini bisa tercapai, dan ini tentunya memerlukan waktu yang tidak singkat. Visi yang tentunya tidak boleh mengabaikan Core keberadaan Bank Sultra yaitu bisnis komersil yang tentunya harus meningkatkan keuntungan dan deviden bagi pemegang saham dalam hal ini PAD bagi Pemerintah Daerah.
Kurang dari satu tahun kepemimpinan Andri Permana sebagai Dirut Bank Sultra sebagaimana yang telah dilaporkan RUPS TB 2025 bahwa Bank Sultra mencatatkan kinerja keuangan yang sangat positif dengan membukukan laba bersih sebesar Rp419,6 miliar. Laba ini menunjukkan pertumbuhan yang kuat, didorong oleh peningkatan total aset mencapai Rp14,8 triliun (tumbuh 5,03% dari 2024) dan penyaluran kredit Rp9,5 triliun (naik 3,25% dari 2024). Laporan ini tentunya tidak mendegradasi fungsi utama Bank Sultra seperti yang saya paparkan sebelumnya. Justru meragukan kepemimpinan Andri Permana disaat laporan meningkatnya kualitas kinerja perbankan Bank Sultra adalah sebuah anomali tak berdasar.
Pada akhirnya diskursus ini mengarahkan kita pada konklusi nyata bahwa meragukan kepemimpinan Andri Permana sebagai Dirut Bank Sultra justru pada dasarnya meragukan kompetensi anak muda yang cemerlang dan potensial. Disatu sisi kesan subjektif dan prematur tidaklah salah saya sematkan kepada mereka yang ragu pada kompetensi Dirut Bank Sultra yang terus berupaya memberikan kepastian kualitas dan menumbuhkan kepercayaan publik pada Bank Sultra. Pada akhirnya diskursus ini seperti mengingatkan kita pada Kailash Satyarthi salah satu peraih nobel perdamaian asal India yang wajahnya mirip dengan aktor Amitabh Bachchan. Kailash Satyarthi mengatakan “The power of youth is the common wealth for the entire world. The faces of young people are the faces of our past, our present and our future.” (Kekuatan anak muda adalah kekayaan bersama bagi seluruh dunia. Wajah orang-orang muda adalah wajah masa lalu, masa kini, dan masa depan kita). Secara pribadi saya mengatakan dan menyeru pada seluruh anak-anak muda Sulawesi Tenggara kembangkan potensi diri kalian dan dengan kompetensi yang kalian miliki jangan ragu untuk “take over” kepemimpinan. Bagi para orang tua dengan rendah hati tanpa rendah diri saya meminta bahwa memberikan kepercayaan kepada generasi muda tidaklah menjatuhkan dan menghilangkan penghargaan mereka kepada kalian. mtar
Artikel ini pertama kali tayang di kendaripos.fajar.co.id






