Portal.id, MUNA – Menyimpan salah satu lukisan tertua di dunia, Liang Kabori yang berlokasi di Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi daya tarik wisatawan mancanegara.
Sesuai namanya, “Liang” berarti Gua dan “Kabori” berarti tulisan. Lukisan-lukisan orang berburu, layang-layang, hingga cap tangan manusia terlukis jelas di dinding-dinding gua yang diyakini sudah ada sejak tahun 12 Masehi.
Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Sultra yang tengah konsen terhadap pengembangan wisata daerah, melihat potensi pariwisata yang besar dari Liang Kabori.
Kepala BI KPw Sultra, Edwin Permadi, menuturkan Liang Kabori merupakan kekayaan budaya yang harus kita dilestarikan dan dikembangkan melalui berbagai kegiatan agar makin ramai dikunjungi.
“Liang Kabori merupakan salah satu destinasi wisata yang sedang viral karena disebut sebagai salah satu gua dengan lukisan tertua di dunia. Saya mendengar dari rekan-rekan di sektor pariwisata bahwa banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke sini. Tentu sangat disayangkan jika kita yang berada di Sultra justru tidak datang berkunjung,” ujar Edwin saat mengunjungi Liang Kabori, Jumat (1/5/2026).

Tidak hanya Liang Kabori, Kabupaten Muna juga menyimpan destinasi wisata alam yang lain. Seperti Puncak Wakila, Danau Napabale, hingga warisan budaya yakni kain tenun Masalili.
“Muna menawarkan paket wisata yang lengkap, mulai dari situs sejarah dunia hingga kekayaan budaya berupa tenunan yang luar biasa. Sangat rugi jika tidak menyempatkan diri ke sini untuk melihat langsung lukisan purba tersebut,” ucap Edwin.
Ia mengungkapkan tenun Masalili ditampilkan UMKM binaan BI KPw Sultra, pada galaran Maimo Shariah 2026 yang dihelat di Lippo Plaza Kendari beberapa waktu lalu.
“Fokus kami adalah membina para pengrajin agar produk mereka bisa menembus pasar nasional hingga internasional. Baru-baru ini, kami mengadakan lomba desain yang salah satu pesertanya menggunakan motif Masalili,” ungkapanya.
Edwin menegaskan motif Masalili itu akan dibawa ke tingkat regional kawasan Timur Indonesi untuk dilombakan kembali di Mataram, Nusa Tenggara Barat (Barat). Jika berhasil, perjalanan motif Masalili berlanjut ke tingkat nasional di Jakarta.
“Dan target akhirnya adalah pentas internasional. Ini merupakan salah satu bentuk kontribusi BI dalam mendorong pelestarian budaya, khususnya tenun Masalili yang sangat eksotis,” tandasnya.












